Budi Daya Udang Windu Tetap Meraup Untung

Rabu, 06 Juni 2018, 21:02 WIB

Udang windu di tambak dalam skala kecil.


AGRONET - Budidaya udang windu masih menjadi pilihan bagi para petambak skala kecil. Udang jenis ini pernah menjadi salah satu komoditas unggulan sektor perikanan Indonesia namun, pamor udang yang bernama latin Panaeus monodon ini pudar akibat wabah penyakit bercak putih (white spot).

Tak sedikit petambak gulung tikar. Pasalnya, tingkat kematian akibat infeksi penyakit ini bisa mencapai 100?lam waktu 2 sampai 7 hari pasca-infeksi dengan tingkat patogenitas yang tinggi. Ganasnya serangan penyakit tersebut masih dapat dirasakan hingga sekarang dengan banyaknya tambak yang terbengkalai akibat petambak trauma dengan kegagalan usaha mereka.

Sebagai gantinya, udang vaname yang berasal dari Amerika Latin diintroduksi di tambak-tambak. Langkah ini pun menuai hasil dan hingga sekarang produksinya melampaui jenis udang lain. Sebelum melakukan penebaran benur, perlu melakukan beberapa tahap persiapan tambak, antara lain pengeringan tambak, penyesetan, dan pengapuran.

Pengeringan tanah dilakukan karena sebelumnya tanah disemprot air guna membersihkan lumpur endapan. Seperti diketahui, endapan ini berasal dari sisa-sisa pakan tak termakan dan tumpukan zat organik yang dihasilkan udang, antara lain feses. Selanjutnya, tanah dibiarkan terkena matahari selama beberapa hari, tujuannya untuk membunuh virus dan bakteri yang terdapat di dalam tanah dasar tambak tersebut.

Setelah proses pengeringan dilakukan, dasar tambak diberikan proses penyesetan. Penyesetan bertujuan meratakan tanah dasar tambak dengan menggunakan cangkul. Selanjutnya dilakukan proses pengapuran di mana salah satu tujuan pengapuran adalah menaikkan pH tanah yang cenderung asam sehingga bersifat netral dan menyuburkan tanah.

Proses Pembesaran Udang
Kegiatan pembesaran atau pemeliharaan udang meliputi kontrol tinggi air secara rutin sebelum umur udang 60 hari, pengendalian hama, dan pemberian pakan yang teratur, yaitu 3 sampai 4 kali dalam sehari. Pakan alami berupa plankton dan zooplankton cukup baik namun bisa juga alternatif pakan udang jenis pelet.

Berikan vitamin secara berkala. Zat ini berfungsi untuk mengoptimalkan pertumbuhan pada benur dan udang. Perawatan yang utama adalah memberikan makan udang dengan baik dan teratur.

Panen Udang Windu di Tambak
Pemanenan dilakukan setelah umur pemeliharaan udang 120 hari. Pada saat itu, udang mencapai bobot 50 ekor setiap kilogramnya. Udang yang telah dipanen biasanya dijual kepada pengepul.

Selanjutnya, pengepul tersebut akan menjual kembali udangnya ke penjual yang ada di pasar. Dengan tingkat kelulusan hidup mencapai 60%, udang yang dipanen dengan ukuran 50 ekor/kg mencapai 3.600 kg.

Pembelian benur, pakan, vitamin, dan perawatan lainnya bisa merogoh modal sampai Rp 500.000—Rp 600.000. Sementara pemasukan kotor yang diperoleh setiap panen antara Rp 1,5— Rp 2 juta. (Berbagai sumber/111)