Yuk Mengenal Patin Perkasa

Rabu, 10 Oktober 2018, 14:53 WIB

Patin Perkasa dipamerkan dalam kegiatan science and innovation business matching (SIBM) di gedung KKP, Jakarta. | Sumber Foto: AGRONET/Hamdan Zalik

AGRONET -- Ikan patin perkasa merupakan jenis baru yang  dapat tumbuh dengan cepat. Respon seleksi kumulatif berdasarkan bobot setelah seleksi selama dua generasi tercatat 38,86 persen, 20,91 persen pada populasi generasi pertama, dan 17,95 pada generasi kedua.

Patin perkasa atau “patin super karya anak bangsa” merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat, di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Penelitian patin perkasa yang dilakukan sejak  tahun  2010 hingga 2017 itu telah dirilis sebagai ikan budi daya sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 75/KEPMEN-KP/2018.

Patin perkasa diperkenalkan kepada peserta pertemuan science and innovation business matching (SIBM) di gedung KKP, Jakarta, Selasa (9/10). Patin ini merupakan salah satu unggulan hasil riset KKP yang akan dikembangkan secara luas di daerah Jawa Barat.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP, Sjarief Widjaja, di sela-sela acara pameran SIBM, menjelaskan patin perkasa merupakan salah satu inovasi unggulan. Dia menyampaikan pengembangan patin perkasa bagi dunia industri akan lebih menguntungkan karena daging lebih tebal dan waktu pembesaran relatif lebih singkat.

Dalam pameran dijelaskan secara rinci proses penelitian dan kelebihan patin perkasa. Peneliti BRPI Sukamandi memulai penelitian dengan melakukan karakterisasi populasi induk pembentuk pada tahun 2010. Selanjutnya, dilakukan pembentukan populasi dasar pada tahun 2011, kemudian dilakukan pembentukan populasi generasi pertama pada tahun 2013 dan pembentukan populasi generasi kedua pada tahun 2015.

Pembentukan populasi-populasi itu dilakukan melalui seleksi famili pada karakter pertumbuhan menggunakan parameter ukuran bobot tubuh. Indikator keberhasilan berdasarkan parameter bobot ukuran konsumsi (>500 g) diperoleh sebesar 20,91 persen pada populasi generasi pertama dan 17,95 persen pada populasi generasi kedua. Sehingga diperoleh respon seleksi kumulatif pada dua generasi sebesar 38,86 persen.

Hasil pengujian pertumbuhan pada uji lapangan (uji multilokasi dan multisistem) menunjukkan bahwa pertumbuhan dan tingkat produktivitas patin perkasa lebih unggul. Hal itu dibandingkan dengan uji pada ikan patin siam dari masing-masing wilayah lokasi uji.

Hasil ujinya adalah 20,62 persen selama 7 bulan pemeliharaan di Sukamandi, 20,60 persen selama 6 bulan di Kuningan, Jawa Barat. Kemudian sebesar 46,42 persen selama 8 bulan di Tulungagung, Jawa Timur,  dan 16,61 persen selama 6 bulan di Lampung.

Pengujian daya tahan terhadap infeksi bakteri Aeromonas Hydrophila pada dosis LD, 1,8×10 CFU/mL menunjukkan benih patin Perkasa tumbuh cepat generasi kedua lebih tahan dengan mortalitas 33,33 persen pada jam ke-24 dan 58,86 persen pada jam ke-168. Dibanding benih patin siam lain dengan mortalitas 60,00 persen pada jam ke-24 dan 76,67 persen pada jam ke-168.  Benih patin perkasa juga memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap paparan pH asam (H4,5) dan salinitas 18 g/L. (591)