Berakuaponik dengan Sidat

Rabu, 06 September 2017, 11:08 WIB

Sidat atau ’Anguilla sp’

AGRONET – Suka unagi? Produk ikan yang sangat disukai masyarakat Jepang itu sebenarnya adalah ikan sidat atau ’Anguilla sp’. Ikan yang dagingnya memiliki kandungan Omega 3 (EPA) dan Omega 6 (DHA) sangat tinggi. Zat yang disebut sangat baik untuk perkembangan otak anak-anak. Kandungannya bahkan nyaris dua kali lipat dibanding pada ikan salmon maupun tenggiri.

Masalahnya adalah bagaimana memelihara ikan sidat? Bukankah banyak kesulitan yang harus dihadapi dalam budidaya sidat? Apalagi bila harus memulainya dari skala usaha yang kecil. Itu yang menjelaskan sangat sedikit pengusaha lokal dan nasional yang terjun ke bisnis budidaya sidat. Pemeliharaan ikan sidat di Indonesia secara umum dikuasai oleh perusahaan asing dalam skala bisnis besar.

Memang banyak tantangan untuk membudidayakan ikan yang mirip dengan belut ini. Salah satunya adalah masa pemeliharaannya yang perlu waktu panjang untuk dapat dipanen. Hal tersebut dapat menyulitkan keuangan usaha berskala kecil menengah. Untuk menyiasati itu, dikembangkan sistem akuaponik dengan ikan sidat.

Di antara penganjur sistem akuaponik sidat adalah Sidat Labas. Perusahaan berbasis di Pamijahan Bogor ini meruakan salah satu perusahaan nasional, di antara perusahaan-perusahaan asing, yang membudidayakan ikan sidat. ”Kami menyarankan kombinasi ikan sidat, dengan ikan lele, ikan nila, dan juga tanaman seperti kangkung,” kata Krisna, seorang Manajer Sidat Labas.

Cara yang ditempuhnya sederhana. Yakni dengan menyiapkan empat bak yang disambungkan secara seri. Bak pertama khusus untuk memelihara ikan sidat. Bak kedua untuk memelihara ikan lele. Bak ketiga untuk ikan nila. Bak keempat untuk saringan yang menetralisasikan air. Setelah itu, air dipakai untuk bertanam kangkung atau slada air.

”Yang perlu diberi makanan hanya bak pertama,” kata Krisna. Yakni untuk ikan sidat. Selanjutnya, air dari bak pertama mengalir ke bak kedua membawa sisa makanan serta kotoran ikan sidat. Itulah yang akan dimakan oleh lele. Sisa makanan serta kotoran lele pun mengalir ke bak ketiga, tempat ikan nila.

Air dari sana kemudian dinetralkan di bak keempat, yang kemudian mengalir untuk dipakai budidaya tanaman hidroponik apapun yang dikehendaki. Dengan cara seperti itu, tanaman hidroponik tak perlu pemupukan atau perlakuan khusus apapun. Sedangkan air dari budidaya hidroponik itu dapat dipompa lagi untuk keperluan bak pertama, yakni pembesaran ikan sidat.

Sistem akuaponik yang mudah dikembangkan di pekarangan rumah itu dipandang memiliki manfaat ganda. Kangkung atau sladanya dapat dipanen lebih dahulu. Ikan nila dan ikan lele juga dapat segera dikonsumsi. Puncaknya tentu saja adalah memanen sidat yang dapat diolah untuk unagi. Baik untuk dipasarkan maupun dikonsumsi sendiri untuk mendapatkan kandungan EPA dan DHA yang tinggi secara relatif murah. (312)