Mau Untung Besar ? Coba Budi Daya Sidat

Kamis, 29 November 2018, 01:28 WIB

Budidaya ikan sidat banyak diminati orang karena dapat memberi keuntungan yang lumayan besar. | Sumber Foto:dkp.pemprovjatim.go.id


AGRONET - Beragam spesies ikan sidat (Anguilla sp.) yang tersebar di seluruh dunia asal usulnya berasal dari Indonesia. Dari hasil penelitian diketahui jika dari 18 spesies ikan sidat yang ada di dunia ternyata 12 spesies ada di Indonesia. Namun, sayangnya belum banyak nelayan di Indonesia yang mengetahui dan mengembangkan ikan ini. Padahal ikan ini sangat diminati di pasar internasional khususnya Cina dan Jepang.

Masyarakat Jepang telah sejak lama mengetahui manfaat yang terkandung di dalam ikan sidat. Kandungan energi ikan sidat yang mencapai 270 kkal/100 g, lebih besar dari telur ayam. Sementara vitamin A yang terkandung di dalamnya tujuh kali lipat lebih banyak dari telur ayam, hingga mencapai 4700 IU/100 g.

Siklus hidup ikan sidat berbanding terbalik dengan ikan salmon. Ikan sidat dewasa akan mengeluarkan telurnya di laut dalam. Setelah menjadi glass eel dan elver, akan berpindah ke air tawar atau payau. Ikan sidat akan bermigrasi kembali ke laut dalam untuk melakukan proses pemijahan setelah dewasa.

Dalam hal mengonsumsi ikan sidat, masyarakat Jepang sangat mengutamakan faktor kualitas. Pada umumnya yang mereka inginkan adalah ikan sidat ukuran 50 gram. Selanjutnya mereka akan membesarkan ikan sidat tersebut hingga ukuran yang mereka inginkan. Dengan cara ini, rasa dan kualitas ikan sidat akan terjaga dengan baik.

Ketidaktahuan masyarakat terhadap potensi ikan sidat menyebabkan harga ikan sidat dipasaran dalam negeri sangatlah murah. Di Indonesia ikan sidat dijual dengan harga Rp 120.000 hingga Rp 650.000 per kilogram, bergantung pada kualitas dan bobotnya.

Di Jepang, ikan sidat yang disebut dengan unagi, dijual dengan harga hingga Rp 2 juta per ekor. Untuk satu ekor benih ikan sidat, dijual dengan harga 3 Yen. Namun, unagi yang telah matang dengan cara dibakar dan disajikan dengan nasi, dijual seharga sekitar Rp 400 ribu per porsi.

Hasil budidaya ikan sidat di dalam negeri Jepang hanya mampu memasok sekitar 30% saja permintaan pasar. Sisanya sekitar 70%, dipasok dari luar negeri, termasuk Indonesia. Kondisi inii menunjukkan jika pasar ikan sidat internasional terutama Jepang sangat menjanjikan.

Tidak heran jika orang berlomba-lomba mengerjakan budi daya ikan sidat dan mengekspor ke Jepang dan beberapa negara lainnya. Hal ini menyebabkan Indonesia menjad negara terbesar mengekspor ikan sidat. Sebagai contoh, sangat banyak ikan sidat tumbuh dan berkembang di kawasan air payau di daerah selatan dan utara Jawa Barat.

Saat ini budidaya ikan sindat di Indonesia memang sedang berkembang. Usaha ini menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. Sehingga tidak heran jika banyak orang mengerjakan budi daya ikan sidat.

Budi daya ikan sidat sebenarnya mirip dengan budi daya jenis ikan lainnya. Dapat menggunakan kolam biasa atau kolam terpal. Jika pertimbangannya biaya, umumnya orang memilih menggunakan kolam terpal, karena lebih murah.

Walapun budidaya ikan sidat cukup mudah, namun tetap harus memperhatikan beberapa hal agar tidak terjadi gangguan yang dapat membuat proses budidaya gagal. Berikut adalah tips singkat budidaya ikan sidat.

Proses pendederan (pembesaran benih). Perhatikan proses adaptasi bibit ikan sidat dari habitat alami ke kolam. Pastikan juga benih ikan sidat mau memakan pakan buatan yang diberikan. Pendederan ini adlah proses pembesaran glass eel sampai benih ikan sidat berukuran elver. Glass eel atau benih ikan sidat yang ditebar minimal memiliki berat 0,17 gram per ekor.

Sesuaikan ukuran kolam dengan jumlah benih ikan yang ditebar. Agar benih dapat berkembang dengan baik, gunakan perbandingan 1 liter air untuk 6 ekor benih ikan. Pekerjaan pendederan harus dilakukan secepat mungkin ketika benih ikan telah tiba di tempat pemeliharaan. Agar benih tidak stress, perhatikan pula cara menuang benih ke kolam. Biarkan plastik terbuka di dalam kolam dan benih keluar sendiri masuk ke kolam.

Setelah benih ikan mencapai berat yang diinginkan maka pindahkan ke kolam lain yang lebih besar hingga benih mencapai berat 10 gram. Jangan lupa rutin membersihkan kolam dan memberi pakan. Jika berat ikan telah tercapai, pindahkan lagi ke kolam lain untuk pembesaran.

Untuk mendapatkan hasil maksimal sebaiknya gunakan sistem aerasi dengan kondisi air mengalir. Jangan lupa perhatikan juga suhu air. Jaga pada kisaran 28 hingga 31 derajat Celcius. Untuk menjaga agar suhu air tidak naik karena sinar matahari, kolam dapat ditutup dengan menggunakan terpal atau anyaman bambu.

Sebagai patokan, apabila ikan sidat telah mencapai berat sekitar 200 gram per ekor, berarti ikan telah siap untuk dijual. Biasanya diperlukan waktu sekitar 5 bulan untuk memanen terhitung sejak pendederan awal. Selamat mencoba. (555)