Ikan Kobia, Ikan Bernilai Ekonomi Tinggi

Sabtu, 09 Pebruari 2019, 11:17 WIB

Ikan Kobia, Ikan Bernilai Ekonomis Tinggi yang Belum Banyak Dikenal | Sumber Foto:Dok KKP

AGRONET --  Ikan “KOBIA” (Rachycentron canadum)  merupakan spesies ikan karnivora laut yang relatif baru dalam bidang budidaya dan belum banyak dikenal oleh masyarakat. Ikan ini bernilai ekonomis tinggi, tapi masih terkendala ketersediaannya, karena masih sedikitnya budidaya.

Ikan kobia merupakan salah satu jenis ikan yang sangat potensial untuk dikembangkan karena memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan utamanya adalah pertumbuhan yang cepat, dimana dalam jangka waktu 1 tahun ukurannya dapat mencapai 4-6 kg.  Biarpun termasuk jenis ikan ukuran besar, ikan kobia  mudah beradaptasi dengan lingkungan budidaya serta mudah mengkonsumsi pakan buatan.

Ikan kobia masih berkerabat dengan hiu, ini dapat dilihat dari bentuk tubuhnya yang mirip dengan hiu kecil. Kobia mempunyai nilai ekonomi yang tinggi di pasaran karena dagingnya yang besar dan banyak kegunaannya.

Kobia hidup di perairan tropis dan sub tropis. Ikan kobia banyak ditemukan di Pasifik, Atlantik, dan sebelah barat daya Meksiko. Budidaya kobia di Indonesia baru pada tahap percobaan. Namun demikian, pembenihan dan pembesaran kobia sudah bisa dilakukan.

Lokasi yang cocok untuk budidaya ikan kobia, di antaranya perairan selat kecil atau teluk yang terlindung dari ombak dan badai. Selain itu, pola pergantian massa airnya baik, bebas dari pencemaran, mudah memperoleh benih dan pakan, serta mudah terjangkau.

Keuntungan lain, kobia dapat dibudidayakan di tambak. Dengan begitu populasi dalam sekali pemeliharaan bisa banyak dan dalam waktu singkat. Budidaya di tambak dilakukan saat ikan berbobot 25—100 gr. Ikan kobia adaptif sampai salinitas 5 per mil karena di habitat aslinya ikan kobia mampu hidup di muara.

Untuk menarik minat masyarakat mengkonsumsi ikan kobia, Ditjen PDSPKP menggelar demo masak ikan kobia oleh Chef Aiko bersama Dirjen PDSPKP Rifky E. Hardijanto saat bazar produk perikanan yang rutin di gelar setiap bulan di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan.  

Pada bazar yang digelar di awal Februari  2019 tersebut, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung  Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, memperkenalkan  ikan Kobia kepada masyarakat  sebagai satu jenis ikan lokal Indonesia.

Ikan kobia yang merupakan asli perairan Indonesia, sangat potensial dikembangkan dan bisa menjadi sumber ikan dalam mendukung program peningkatkan konsumsi ikan yang targetnya 70 kg/kapita pada tahun 2024.  

Adapun terkait rasa dari daging ikan kobia, Dirjen menyampaikan bahwa daging ikan kobia teksturnya lembut dan kulit sekitar kepala tebal seperti kulit sapi. “Ikan kobia merupakan pilihan yang cocok untuk penggemar kikil kulit sapi,  namun kulit ikan lebih aman dikonsumsi karena tergolong asam lemak tak jenuh yang bermanfaat menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah”, terang Rifky.

Pada kesempatan tersebut Cheff Aiko mengatakan bahwa kelebihan dari ikan kobia adalah rasanya yang tidak amis. ” Saya yakin bahwa ikan kobia pasti disukai oleh anak anak karena rasanya yang tidak amis, baik dimakan dalam bentuk daging ataupun menjadi olahan lainnya," terang Aiko.  Satu pesan yang penting dari Cheff Aiko bahwa saat memasak jangan terlalu lama, karena protein ikan akan rusak dan dagingnya menjadi kering. (234)