Menikmati Hasil Panen di Dusun Dukuh Taman, Tegal

Selasa, 03 April 2018, 09:09 WIB

Joko saat mengeringkan gabah hasil panen.

AGRONET – Joko Listiono masih sibuk mengurai gabah hasil panen untuk dikeringkan. Gabah diletakkan di sebuah lapang beralaskan terpal, dibiarkan di bawah terik matahari. Dengan garpu yang terbuat dari kayu, gabah-gabah ditumpuk berunduk, diatur membentuk barisan yang panjang.

Minggu, 1 April adalah hari yang bertepatan dengan panen raya padi di banyak lahan. Juga, hari di mana lelaki berusia 44 tahun itu menuai hasil panen padi di lahan sawah miliknya. Warga di Dusun Dukuh Taman, Desa Jembayat, Margasari, Tegal biasa menyebut lahan sawah dalam ukuran “seperempat” atau satu per empat.

Ukurun “seperempat” itu setara dengan luas lahan sekitar 1.750 meter persegi. Dari lahan seperempat, lelaki asli kelahiran Dusun Dukuh Taman itu mengaku bisa memperoleh hasil panen gabah kering sekitar 1 ton lebih. Jika didukung oleh cuaca dan kelangkaan hama perusak, hasil panen bisa mencapai 1,5 ton.

Setelah kering, gabah hasil panen akan dikemas ke dalam karung berukuran 50 kg. Karung-karung tersebut akan dibawa ke pabrik penggilingan gabah, atau biasa disebut selip alias pabrik penyelipan. Biaya penyelipan gabah kering lumayan tinggi yaitu, Rp 500 untuk per kilogram hasil beras yang siap jual.

Ini artinya, modal untuk penggilingan bisa mencapai Rp 25.000/karung ukuran 50 kg. Jumlah pabrik penggilingan di Desa Jembayat tidak banyak. Sebagian besar pabrik dimiliki oleh pengusaha lokal yang sekaligus menjadi tengkulak, atau orang desa biasa menyebutnya “juragan”.

Joko dan petani lain di desanya memilih menjual hasil panen ke tengkulak dibandingkan ke Bulog. Alasannya cukup sederhana. Para tengkulak berani membeli dengan harga cukup tinggi dibandingkan Bulog yang hanya Rp 6.000/kg beras siap kemas.

Siang yang terik itu, Joko mulai memasukkan gabah kering ke dalam karung dan siap dibawa ke pabrik penyelipan. Selang tiga menit, adzan Zuhur berkumandang. Joko menyudahi pekerjaannya, melangkah ke sebuah rumah, duduk sejenak lalu, mengenakan kemeja dan sarung, kemudian melangkah menuju musala yang berjarak sekitar 10 meter dari tempatnya menjemur gabah. (111)