Sistem Irigasi Tradisional Masih Jadi Andalan Petani Jembayat

Selasa, 10 April 2018, 09:10 WIB

Mbah Kus bersama isterinya menunggu hasil panen.

AGRONET – Petani di Dusun Dukuh Taman, Desa Jembayat, Margasari, Tegal biasa menyebut lahan dalam ukuran seperempat. Lahan seperempat itu setara dengan lahan seluas 1.750 meter persegi. Untuk memenuhi lahan tersebut, dibutuhkan 10 kilogram bibit padi.

Bibit-bibit tersebut sudah terkemas rapi dalam kemasan ukuran 5 kilogram. Untuk 1 kemasan, Mbah Kus biasa membeli dengan harga Rp 60.000. Artinya, kakek berusia 63 tahun ini membutuhkan 2 pak bibit dalam setiap kali pembelanjaan.

Jenis bibit yang bisa dipilihnya adalah IR 64. Bibit akan langsung ditanamnya setelah masa panen berakhir. Seperti di Minggu, 1 April 2018. Para petai di Dusun Dukuh Taman baru saja menikmati panen raya di ratusan lahan sawah.

Gabah yang sudah dipanen segera dipisahkan untuk dijemur lalu digiling ke tempat penggilingan gabah. Atau, yang biasa disebut pabrik penyelipan gabah. Lahan sawah yang telah kosong kembali digarap untuk selanjutnya ditanami bibit yang baru saja dibeli dan, begitu seterusnya dilakukan secara berkelanjutan.

“Ini habis panen. Rata-rata semua petani lagi panen. Setelah panen, sawah ya semuanya langsung digarap. Mulai nanam lagi. Kalau hasil, alhamdulillah lumayan, seperempat  bisa dapet satu ton. Kalau cuaca lagi bagus ya hasilnya bisa lebih dari satu ton ya. Bisa satu setengah. Kalau cuaca lagi nggak bagus ya bisa dapet cuma satu ton, bahkan bisa kurang dari satu ton juga pernah,” jelas Mbah Kus.      

Selesai penggilingan, semua beras dijual ke tengkulak. Orang desa menyebutnya “juragan”. Para juragan berani membeli lebih tinggi hasil panen para petani dibandingkan Bulog.

Alasan itulah yang membuat para petani memilih pergi ke tengkulak. Para petani sangat memperhatikan sistem irigasi. Beberapa sawah yang ada di Desa Jembayat masih menggunakan irigasi tradisional.

Di mana, air yang digunakan berasal dari aliran anak sungai yang jaraknya tidak begitu dekat dari lahan. Masalah irigasi bukanlah persoalan bagi Mbah Kus dan teman-temannya. Yang menjadi masalah adalah banyaknya hama pengganggu, meski untuk mengatasinya, Kus biasa menggunakan insektisida jenis Decis maupu Buldok.

Siang yang terik, di beranda sebuah gubuk yang letaknya tak jauh dari lahan pengeringan gabah. Mbah Kus dan isterinya, sejenak, duduk menunggu matahari bergeser sedikit ke barat. Bukan berarti malas atau menghindari panasnya matahari, tapi paling tidak, ia menunggu adzan zuhur selesai dikumandangkan lalu pergi sholat dan, kembali bekerja mengatur gabah yang mulai dirasa sudah kering. (111)

Komunitas