Ke Mana Gerangan Kerbau Berada?

Selasa, 27 Pebruari 2018, 22:57 WIB

Pemanfaatan kerbau untuk membajak sawah. | Sumber Foto:istimewa

AGRONET-Pada era tahun 1970-an, kerbau masih kerap dijumpai di banyak tempat. Di berbagai buku cerita atau buku pelajaran sekolah, gambar hewan itu juga sering ditampilkan. Hal ini membuat anak-anak pun bisa mengenali dengan baik hewan tersebut.

Lain dulu, lain pula sekarang. Keberadaan kerbau amat jarang ditemukan, apalagi di kota-kota besar. Di sawah pun, jumlah binatang ini juga kian sedikit yang dimanfaatkan untuk membajak. Para petani lebih sering menggunakan jasa sapi/lembu untuk membajak sawah.

Faktanya, jumlah kerbau di negara kita memang terus menyusut. Saat ini, jumlah kerbau seluruh Indonesia diperkirakan tak sampai satu juta ekor. Padahal tahun 2011 saja masih ada lebih dari dua juta ekor. Sangat jauh dibanding jumlah sapi di Indonesia yang tak kurang dari 15 juta ekor.

Ada 10 wilayah yang jumlah kerbaunya paling banyak dibanding daerah lain. Kesepuluh wilayah itu adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

Kerbau dan sapi memiliki usia yang hampir sama. Kalau terus dipelihara, keduanya bisa bertahan sampai 25 tahun. Berat badan kedua hewan ternak ini juga setara: bisa mencapai kisaran satu ton atau 1.000 kg.

Pada zaman dulu, daging kerbau juga disukai masyarakat. Banyak orang yang punya hajat lebih suka menyembelih kerbau daripada sapi/lembu. Bahkan di daerah Kudus, Jawa Tengah, soto kerbau begitu memasyarakat.

Hewan berkulit abu-abu (ada juga yang hitam atau albino/bule) ini juga memiliki banyak manfaat untuk para petani. Selain daging dan jasa untuk membajak, kulit kerbau juga sangat gurih untuk dijadikan kerupuk (biasa diberi nama kerupuk rambak). `Lantaran itu, beternak kerbau sangat bermanfaat, selain juga untuk melestarikan hewan ternak ini.

Untuk mendapatkan kualitas kerbau terbaik dibutuhkan metode pemeliharaan yang efektif. Cara yang baik dalam budi daya kerbau akan berdampak sangat optimal pada perkembangan hewan itu dan kesehatannya pun lebih terjaga.

Membuat kandang

Kandang kerbau sebaiknya berada jauh dari rumah atau permukiman. Bau kotoran kerbau cukup mengganggu bila kandangnya dekat dengan rumah. Ukuran dan bentuk kandangnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan, yakni tergantung jumlah kerbau yang dipelihara. Kandang bisa dibuat dari bambu seperti kandang pada umumnya.

Lantai kandang sebaiknya diberi semen. Bisa juga lantainya dari tanah akan tetapi perlu dipadatkan sehingga tidak gembur. Akan lebih baik kalau posisi lantai kandang lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Tujuannya, jika ada hujan atau air menggenang, maka lantai kandang tidak akan becek. Jika becek, baunya akan semakin menyebar dan juga sangat kotor.

 Ventilasi haruslah diperhitungkan. Sirkulasi udara perlu terus terjaga dengan baik. Kandang yang sisinya terbuka dan pencahayaan bagus (sinar matahari bisa masuk) akan baik bagi kehidupan hewan ternak.

Sistem drainase harus memadai. Pembuangan di dalam maupun di luar kandang perlu dibuat dengan rapi. Kandang juga harus dibersihkan setiap hari.

Tempat pakan sebaiknya berada di luar kandang. Sebagaimana kandang sapi dan kambing, tempat pakan untuk kandang kerbau juga dibuat dengan ukuran tinggi yang lebih rendah dari kerbau.

 Merawat kerbau

Beternak kerbau sebenarnya tidaklah susah walau tidak sepopuler beternak sapi. Secara umum perawatan kerbau tak beda jauh dengan sapi dan kambing. Makanan utama kerbau pun sama, yakni rumput.

Perawatan utama beternak kerbau adalah memberi pakan secara rutin setiap hari. Pakan kerbau harus senantiasa tersedia di kandang. Jenis pakan sehari-hari yang bisa diberikan berupa rumput segar, jerami padi, dedak halus, kacang-kacangan yang masih segar, vitamin, mineral, dan garam untuk pelengkap. Makanannya sebaiknya diberikan setiap pagi dan sore. Bisa juga pakan disediakan sesuai kebutuhan.

Saat-saat tertentu, menggembala kerbau di padang rumput juga sangat diperlukan. Memandikan kerbau secara rutin beberapa hari sekali juga penting dilakukan. Ini bisa dilaksanakan di dekat kandang atau di tepi sungai.

Penting juga diperhatikan, memilih bibit kerbau yang baik untuk dipelihara. Jika Anda kesulitan memilih bibit kerbau, sebaiknya bertanya pada orang yang punya kemampuan atau ahlinya.

Anak kerbau biasanya sudah bisa dipisahkan (disapih) dari induknya saat berumur sekitar tiga bulan. Pada umur itu, anak kerbau sudah bisa mencari pakan sendiri dan tidak lagi mengonsumsi susu dari induknya. Sedangkan pada umur 2-3 tahun, anak kerbau sudah bisa melakukan perkawinan.

Jenis penyakit

Ada lima jenis penyakit yang bisa menyerang kerbau. Pertama, penyakit mastitis yang disebabkan bakteri, Jika terkena penyakit ini, susu kerbau akan bengkak dan kemerah-merahan. Air susu kerbau akan encer sekali atau bahkan menggumpal.

Kedua adalah haemorrhagic septicamea atau pasteurilosis. Penyakit ini amat ganas dan menyerang dada, tenggorokan, serta tulang belikat sehingga bagian itu menjadi panas dan kerbau tak berselera untuk makan.

Ketiga, penyakit tuberculosis. Penyebabnya bakteri juga. Tanda-tandanya, suhu tubuh naik-turun, batuk kering, nafsu makan turun, dan bahkan sampai diare.

Keempat, penyakit siphona exigua. Ini merupakan penyakit kulit. Karena itu, menjaga kebersihan kulit kerbau sangatlah perlu. Penyebabnya adalah serangga dan kerbau bisa menjadi kekurangan darah.

Terakhir atau kelima adalah penyakit sarcoptic mange. Penyakit ini berupa luka pada bagian leher hingga sepanjang perut. Kian lama, kulit bisa menebal dan kerbau menjadi lemah. Untuk kelima jenis penyakit ini, konsultasi ke dokter hewan amat diperlukan. (berbagai sumber/442)

 

BERITA TERKAIT