Cacing Tanah Punya Harga Jual Tinggi

Kamis, 05 April 2018, 22:39 WIB

Cacing tanah memberi banyak manfaat dan menguntungkan secara materi.

AGRONET - Bukan cuma menjijikan tapi banyak orang merasa takut atau geli pada hewan satu ini. Namun, sebagian yang lain menganggap hewan ini memberi banyak manfaat dan menguntungkan secara materi. Mereka adalah para peternak cacing tanah.  
 
Belakangan, budi daya hewan yang hidup di bawah permukaan tanah ini cukup marak. Para peternak banyak menggunakannya untuk pakan ternak maupun obat. Hewan ini dinilai memiliki kandungan protein yang tinggi. Protein yang dikandungnya sangat baik bagi para peternak ikan.

Cacing juga diolah menjadi obat mujarab penurun demam bagi manusia. Bahkan, akhir-akhir ini, industri kosmetik juga memanfaatkan cacing sebagai bahan dasar pelembab dan peremajaan kulit. Tingginya permintaan pasar, membuat harga cacing memiliki nilai ekonomis yang fantastis dan menggiurkan.

Cacing tanah yang dibudidayakan adalah jenis Lumbricus rubellus, yang memiliki ciri tubuh berwarna merah. Cacing jenis ini paling cepat pertumbuhan serta perkembangbiakannya. Tidak ada kesulitan yang berarti dalam membudidayakannya.

Mereka yang ingin menjadi pembudi daya pemula cukup menyediakan kandang yang berbentuk kotak berukuran 90 x 50 x 30 cm. Kotak tersebut diisi media tanah. Untuk menghemat tempat, rak dapat dibuat bersusun.

Usahakan tanah yang diisi adalah tanah yang kaya humus seperti pupuk kompos atau pupuk kandang. Isi tanah dengan ketinggian 5-10 cm dari batas atas box. Pastikan tempat budidaya tidak terpapar cahaya matahari secara langsung lalu, basahi sedikit media tanah menggunakan air.

Cacing tergolong hewan hermaprodit yang mampu berubah jenis kelamin namun, ia tetap tidak bisa membuahi dirinya sendiri tanpa ada perkawinan dari cacing lain. Perkembangbiakan cacing ini tergolong cukup cepat karena dari 100 ekor cacing bisa menjadi 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Sepasang cacing yang kawin akan menghasilkan 1 kokon (telur) dan dalam 2 minggu kokon akan menetas menjadi sekitar 20 ekor.

Pastikan tanah memiliki pH (derajat keasaman) normal antara 5,5 – 7,5. Isi tiap boks dengan 50-100 ekor cacing. Setiap 3 jam sekali, perhatikan apakah ada cacing yang keluar atau tidak.

Jika ada cacing yang keluar dan berusaha pergi dari box, itu karena merasa tidak nyaman dengan kondisi tanah. Ini bisa disebabkan kadar pH yang tidak tepat atau suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin. Jika tidak ada yang kabur, itu tandanya cacing sudah merasa nyaman dengan lokasi yang baru.

Ingat, jauhkan media dari sinar langsung baik sinar matahari atau lampu. Karena, cacing merupakan binatang yang sensitif terhadap cahaya. Kompos dan pupuk kandang bisa menjadi sumber pakan bagi cacing. Namun, pakan yang paling bagus adalah kotoran sapi atau kerbau. Ada yang perlu diperhatikan yakni sebaiknya pakan yang diberikan sudah dalam keadaan gembur (halus). Ini untuk memudahkan pencernaannya.

Tanah yang sudah terlalu banyak cacing dan kokon (telur) harus diganti. Penggantian biasa dilakukan tiap 1-2 bulan sekali. Cacing dikeluarkan semuanya dari media tanah lalu dipindahkan ke media tanah yang baru.

Tanah kascing (bekas cacing) ini didiamkan agar kokon menetas dan mengembangkan cacing-cacing baru. Agar telur mudah dikumpulkan, buatlah sebuah media yang menjadi lokasi favorit cacing untuk bertelur. Sebagaimana budidaya lainnya, budidaya cacing juga dipengaruhi oleh hama pengganggu.

Hama pengganggu cacing berasal dari binatang lain yang kebanyakan dari jenis serangga. Binatang yang mengganggu dan menyerang cacing di antaranya ialah semut, kumbang, lipan, tikus, ayam, bebek, kadal, kutu, dan lintah. Namun, yang paling sering ialah semut, karena semut ini berusaha untuk memangsa cacing.

Cara mudah mengusir semut adalah, di setiap kaki rak diberi kapur anti serangga. Panen cacing dapat dilakukan setiap 6 bulan sekali. Ada dua keuntungan yang bisa kita peroleh yakni cacing itu sendiri dan tanah kascing yang bisa dijual sebagai pupuk organik dengan harga cukup mahal karena mengandung unsur hara yang terurai sempurna.

Untuk memisahkan cacing dari tanah, tidak perlu mengaduk-aduk tanah tersebut. Cukup menggunakan lampu neon atau petromaks yang didekatkan di atas permukaan tanah yang ada di dalam kotak maka cacing akan keluar dengan sendirinya ke permukaan karena sifat cacing yang sensitif terhadap cahaya. Dengan begitu, cacing bisa diambil dengan mudah.

Setelah diambil cacingnya, maka ambil kokon pada sarang lalu pisahkan dari tanah kascing untuk ditempatkan pada media baru. Tanah kascing ini bisa dikumpulkan sebagai pupuk. Para pembudidaya harus banyak melakukan perhatian terhadap usahanya, agar memperoleh hasil yang optimal. (Berbagai sumber/111)

BERITA TERKAIT