Kalsium Klorida Perpanjang Umur Simpan Belimbing

Senin, 23 April 2018, 13:20 WIB

Belimbing | Sumber Foto:Humas IPB

AGRONET – Prof. Sutrisno, Rokhani Hasbullah, dan Khoirul Mukhtarom, peneliti dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Tenologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Fateta IPB) menjelaskan, secara garis besar  buah terbagi  dua kelompok, yaitu klimakterik dan nonklimakterik. ”Buah nonklimakterik merupakan buah yang harus dipanen saat dia sudah matang seperti belimbing dan tidak bisa dipanen saat hijau.

Berbeda dengan kelompok buah klimakterik seperti pepaya, pisang dan sebagainya dapat dipanen pada waktu masih mengkal, dan kemudian dapat dimatangkan atau diperam, sehingga umumnya yang buah klimakterik memiliki umur simpan yang lebih panjang dari buah nonklimakterik. Buah belimbing biasanya umur simpannya maksimum hanya seminggu pada suhu ruang,” tutur Prof Sutrisno.

Buah belimbing manis (Averrhoa Carambola L.) banyak mengandung vitamin C. Buah ini dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, mengobati diabetes mellitus, anti kanker, dan memperlancar pencernaan. Buah belimbing merupakan buah yang mudah rusak (perishable), memiliki umur simpan pendek, dan mudah terserang mikroba. Hal ini mudah menyebabkan munculnya penyakit pascapanen pada buah tersebut.

Salah satu perlakuan pascapanen yang dapat diberikan untuk memperpanjang umur simpan setelah dipanen ialah dengan perlakuan air panas dan pencelupan pada larutan CaCl2 (Kalsium Klorida). ”Perendaman pada air panas itu untuk membunuh mikroorganisme yang terdapat pada buah.  Sedangkan pencelupan pada larutan CaCl2 itu fungsinya untuk mempertahankan kekerasan dan tekstur daging buahnya,” jelas Prof. Sutrisno.

Ia dan dua peneliti lainnya, Rokhani Hasbullah dan Khoirul Mukhtarom dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Fateta IPB) telah melakukan percobaan tersebut untuk mengetahui pengaruhnya terhadap daya simpan dan mutu buah belimbing.

“Kita telah menguji perlakuan suhu panas ini dengan perendaman buah belimbing dengan suhu yang dikontrol sekitar 42 derajat Celsius dan pencelupan dengan CaCl2. Mikroba bawaan dari buah tropis dan juga telur lalat buah  dari pohon jika dibiarkan akan menetas selama proses distribusi.  Jadi hot water treatment ini fungsinya untuk membunuh itu dan CaCl2 untuk memperkuat jaringan sel agar buah lebih tahan dan tidak cepat rusak. Prosesnya dua kali perendaman pertama dengan air panas dan kemudian dengan larutan CaCl2,” ungkap Prof Sutrisno.

Dari percobaan tersebut, teknologi ini diketahui mampu memperpanjang umur simpan buah belimbing hingga dua kali dari umur simpan umumnya. ”Dari penelitian ini buah belimbing mampu bertahan sampai dua kali umur simpan umumnya dengan penyimpanan di suhu ruang. Kita ingin membantu petani dan pedagang yang biasanya tidak punya wadah pendingin khusus seperti di supermarket, sebenarnya teknologi ini untuk membantu pedagang agar daya simpan buahnya lebih lama,” katanya.

Treatment ini tidak mengubah rasa dan warna buah yang diuji, porses perendaman juga sebentar hanya sekitar 1-2 menit saja. ”Ini merupakan treatment yang ramah lingkungan, kalau CaCl2 itu adalah food grade yaitu aman dikonsumsi manusia dan kadarnya juga tidak tinggi hanya satu persen dan juga mudah didapatkan di pasar lokal,” ujarnya.

Prof Sutrisno menambahkan bahwa secara teoritis, teknologi ini mestinya bisa memperpanjang umur simpan. Teknologi ini diperuntukkan untuk pedagang-pedagang kecil sehingga tidak memberatkan mereka dalam pengadaannya, tapi bisa memperpanjang masa simpan buahnya. Namun demikian penelitian masih harus terus dilanjutkan untuk mengetahui kondisi suhu dari hot water treatnment serta kandungan CaCl2 yang optimum, sehingga akan menghasilkan efek perlakuan yang paling maksimum. (Humas IPB/irm/ris/555)