Kebun Raya Bali, Surga Peneliti Tanaman Langka

Selasa, 24 April 2018, 13:52 WIB

Kebun Raya Bali

AGROnet - Kebun Raya “Eka Karya” Bali merupakan salah satu surga bagi konservasi tanaman langka. Ada ratusan jenis tanaman langka yang berada di Kebun Raya Bali dari total 2.424 jenis koleksi yang dimiliki.

Di taman anggrek saja ada sekitar 293 jenis koleksi anggrek. Dari banyak jenis anggrek yang telah dikoleksi, ada puluhan jenis anggrek langka dan beberapa jenis memiliki tampilan luar yang sangat menarik seperti Vanda tricolor dengan bunganya yang berwarna putih dengan hiasan merah tua kecoklatan.

“Sedangkan untuk jenis anggrek langka, beberapa diantaranya adalah anggrek kasut atau Paphiopedilum javanicum, anggrek hantu atau Taeniophyllum, serta dua jenis anggrek endemik Bali yaitu Malleola baliensis dan Calanthe baliensis,” ungkap Bayu Adjie, Kepala Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya “Eka Karya” Bali.

Dikatakan Bayu, koleksi anggrek-anggrek langka awalnya merupakan anggrek liar yang sudah jarang ditemui di alam. Keberadaannya semakin terancam karena hilangnya habitat akibat konversi lahan dan penebangan hutan, atau pengambilan berlebih di alam untuk tujuan perdagangan.

Selain anggrek, koleksi tanaman langka lain adalah bunga bangkai. Kemudian ada pula jenis tanaman upacara adat yang langka seperti majegau (dysoxyllum meliaceae). “Tanaman ini kami dapatkan pohonnya di Desa Tenganan, Karangasem,” tutur Bayu.

Beragam jenis tanaman langka di Kebun Raya Bali menunjukan salah satu fungsi kebun raya seluas 157,5 hektar ini sebagai tempat konservasi tumbuhan. “Kebanyakan koleksi merupakan tumbuhan yang berada di dataran tinggi Indonesia bagian timur,” ucapnya.

Jenis koleksi tumbuhan yang ada di Kebun Raya Bali mulai dari pohon raksasa hingga jenis tanaman hias yang cantik nan eksotik. Selain 293 jenis anggrek, ada 75 jenis bambu, 203 jenis tumbuhan paku, 334 jenis tanaman obat, 96 jenis begonia, dan 212 jenis tanaman untuk upacara adat. Sedangkan untuk tanaman koleksi umum sebanyak 1.324 jenis.

Kebun Raya Bali yang berdiri dan diresmikan sejak 15 Juli 1959 ini, selain berfungsi sebagai tempat konservasi, juga memiliki fungsi lain yakni sebagai tempat penelitian, pendidikan lingkungan, jasa lingkungan dan juga pariwisata. (Sumber: Biro Humas LIPI/222)