Sapi Bali, Harta Karun Indonesia

Selasa, 01 Mei 2018, 00:36 WIB

Guru Besar Genetikan Hewan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, Mrur.Sc dalam konferensi pers pra orasi di Kampus IPB Baranangsiang (19/4).

AGRONET - Sumberdaya genetik ternak merupakan aset yang paling strategis dan berharga yang dapat dimiiki oleh suatu negara. Populasi dunia diprediksi akan mencapai 9 milyar lebih pada tahun 2050, beranjak dari 6,7 milyar pada saat ini. Sehingga membutuhkan peningkatan 70 persen produksi pertanian. Diperkirakan di wilayah pedesaan yang miskin sekitar 70% kehidupan masyarakatnya tergantung pada ternak.

”Kombinasi pertumbuhan populasi penduduk, menguatnya pendapatan dan urbanisasi akan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan pangan dan pakan dua kali lipat pada tahun 2050. Yang paling dekat adalah dapat dipastikan menjelang puasa bulan depan akan meningkat permintaan daging tapi kita tidak bisa menutupi. Kekurangan pasokan daging sapi akan terus terjadi sampai tahun 2020,” ujar Guru Besar Genetikan Hewan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, Mrur.Sc dalam konferensi pers pra orasi di Kampus IPB Baranangsiang (19/4).

Meningkatnya permintaan ini membuka kesempatan dan peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kontribusi peternakan pada pertumbuhan ekonomi nasional. Riset-riset  Prof. Ronny selalu diarahkan untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak lokal.

Salah satu yang dilakukan Prof. Ronny untuk meningkatkan populasi ternak lokal adalah pengujian kemurnian Sapi Bali yang terancam kemurniannya. Prof. Ronny telah mengembangkan teknik menganalisa kariotipe, penggunaan scanning electron microscope untuk menganalisa topografi bulu dan kromosom, teknik isoelectric focusing, dan DNA mikrosatelit.

”Di museum ternak tertua Eropa yang ada di Universitas Martin Luther Jerman, Anda akan lihat foto Sapi Bali yang terpampang gagah di salah satu dinding. Foto itu dibuat tahun 1827. Kita patut bangga karena sapi asli Indonesia sudah dikenal bangsa Eropa pada jamannya perang Diponegoro. Ilmuwan Eropa sudah mengidentifikasi bahwa Sapi Bali ini unik dan patut dipertimbangkan sebagai salah satu bangsa sapi unik di dunia,” jelasnya.

Menurutnya ada tujuh keajaiban pada Sapi Bali, yakni dapat bertahan pada kondisi lingkungan marjinal dengan kualitas pakan yang rendah dan memiliki persentasi karkas tertinggi (bahkan tertinggi di dunia). Sapi Bali merupakan salah satu dari sedikit bangsa sapi di dunia yang warna kaki bagian bawah dan daerah seputar pantatnya berwarna putih. Gen pengatur pola warna ini hanya ada di Sapi Bali.

Sapi Bali juga satu-satunya sapi domestik yang warna jantan dan betinanya sama pada saat lahir tetapi berbeda pada saat dewasa. Sapi Bali masih memiliki nenek moyang yang masih hidup. Sapi Bali satu-satunya sapi di dunia yang memiliki keunikan pita hemoglobin. Sapi Bali juga memiliki penanda HEL9 dan INRA 35 DNA mikrosatelit sebagai penciri khasnya. Dan satu-satunya bangsa sapi yang memiliki penyakit khusus yaitu Jembarana.

”Sapi Bali merupakan keturunan langsung dari Banteng yang masih hidup di Taman Nasional Ujung Kulon dan Baluran. Ini membuka peluang bagi pembuktian teori evolusi dan sejarah domestikasi ternak. Karena keunikannya ini, maka Sapi Bali menurut taksonomi digolongkan sebagai bangsa sapi tersendiri yaitu Bos sondaicus atau Bos javanicus yang berbeda dengan Bos taurus (sapi Eropa) dan Bos indicus (sapi Asia Timur),” ujar Ronny Rachman Noor.

Keunikan-keunikan ini menjelaskan bahwa Sapi Bali merupakan warisan nenek moyang yang sangat berharga. Selain itu Sapi Bali juga dapat menjadi andalan dalam pemenuhan kebutuhan daging nasional.

Peternakan rakyat dengan ternak lokalnya berperan dalam pemenuhan gizi dan pengurangan masalah malnutrisi. Tetapi saat ini yang terjadi adalah tidak ada program konservasi bagi lebih dari 75 persen bangsa ternak yang terancam punah. Penyebabnya adalah erosi genetik.

”Terjadi persilangan yang tidak terkendali melalui Inseminasi Buatan (IB) dan salah persepsi terkait produktivitas ternak lokal. Swasembada daging tidak akan pernah terwujud jika tidak dilakukan langkah ekstrim dalam pembibitan sapi sebagai tulang punggung penyedia ternak bakalan untuk ternak potong. Perlu perubahan visi dari swasembada daging sapi menjadi swasembada protein hewani,”ujarnya. (Humas IPB/zul/555)

 

BERITA TERKAIT