Beras Berkalsium Tinggi, Inovasi untuk Kecukupan Gizi

Jumat, 29 Juni 2018, 13:43 WIB

Beras

AGRONET – Meskipun Indonesia negara agraris. Namun, untuk mencukupi kebutuhan pokok seluruh penduduknya, pemerintah harus mengimpor bahan pangan. Dan meskipun pemerataan ketersediaan pangan telah dilakukan pemerinta, nyatanya angka kecukupan gizi penduduk Indonesia masih cenderung rendah.

Jumlah masyarakat yang kekurangan asupan zat gizi baik makro maupun mikro masih tinggi. Kekurangan zat gizi mikro bisa terjadi salah satunya karena kurangnya asupan kalsium. Hal ini bisa menjadi pemicu utama penyakit osteoporosis. Kebiasaan buruk seperti jarang meminum susu menjadi salah satu penyebabnya. Konsumsi susu di Indonesia tercatat sebagai yang paling rendah di wilayah Asia Tenggara. Tingkat asupan kalsium per hari masyarakat Indonesia baru mencapai 30 persen dari kebutuhan yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Melihat kondisi ini, tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mencoba membuat olahan pangan pokok beras yang tinggi kalsium. Produk ini mereka beri nama sebagai Bersagi, yang merupakan singkatan dari beras berkalsium tinggi. Mereka adalah Gito Heryan, Murtezha Hadijaya el Hasyibi, dan Aditya Pratama Rico. “Kami melihat kurangnya daya minat masyarakat terhadap susu. Di sisi lain, Indonesia identik sekali dengan makanan pokok berupa nasi. Banyak orang mengatakan belum makan jika belum makan nasi. Sehingga muncul ide untuk menciptakan produk beras berkalsium tinggi,” ujar Gito, Ketua Tim Bersagi.

Gito dan kawan-kawan membuat Bersagi dengan berbahan dasar beras, sorgum, dan ekstrak kedelai sebagai sumber kalsiumnya. “Kami membuat Bersagi dengan empat formula yang berbeda untuk melihat formula mana yang paling disukai masyarakat.”

Menurut Gito, inovasi beras berkalsium tinggi ini dapat memenuhi kebutuhan kalsium sehari-hari melalui kegiatan konsumsi makanan pokok sehari-hari. "Melihat kebiasaan masyarakat yang minimal makan dua kali sehari bahkan lebih setiap harinya, dengan kandungan kalsium yang ada pada Bersagi maka masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan kalsium hariannya hanya melalui konsumsi makanan pokok di rumah," jelasnya.

Dengan bimbingan dari Moh. Nur Indro, Staf Pengajar di Departemen Fisika, Fakultas Matetamika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB, Bersagi menjadi salah satu Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta Tahun 2018. Judul penelitiannya adalah “Bersagi: Beras Bekalsium Tinggi Hasil Penambahan Ekstrak Kedelai melalui Metode Maserasi sebagai Solusi Peningkatan Mutu Gizi Masyarakat Indonesia”.

Bersagi merupakan sesuatu yang baru karena menggunakan bahan baku yang berbeda dari biasanya. Tim ini berhasil membuat produk hanya dalam satu kali percobaan. Ini menandakan bahwa formula yang diusung oleh tim cocok untuk diaplikasikan pada skala yang lebih besar. Rencana ke depan, Gito dan kawan-kawan berharap bisa mengembangkan Bersagi hingga skala industri, sehingga dapat menjadi salah satu sumber perekonomian yang potensial. “Kami juga berharap bisa bekerja sama dengan masyarakat dalam pemenuhan bahan baku pembuatan Bersagi sehingga dapat menggerakkan roda perekonomian,” kata Gito. (Humas IPB/222)

BERITA TERKAIT