Cangkang Hewan Laut Bulu Babi Mampu Cegah Osteoporosis?

Sabtu, 18 November 2017, 07:30 WIB

Bagian dari bulu babi yang banyak dimanfaatkan adalah gonad.

AGRONET – Masalah utama manusia lanjut usia (lansia) adalah osteoporosis. Terjadi karena penurunan proses penyerapan kalsium dalam tubuh. Untuk mengatasinya, susu menjadi pilihan. Sayangnya, susu sapi yang biasa dikonsumsi memiliki kadar lemak tinggi. Dapat memicu terjadinya stroke. Alternatif lain, mengonsumsi susu kedelai yang rendah lemak. Namun, susu kedelai memiliki kandungan kalsium yang sedikit. Sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan kalsium para lansia.
 
Bulu babi atau diadema setosum adalah menjadi pilihan tepat. Salah satu produk perikanan yang menjadi komoditi penting di berbagai negara. Bagian dari bulu babi yang banyak dimanfaatkan selama ini adalah gonad atau telurnya. Limbah cangkang bulu babi memiliki nilai rendemen lebih dari 90?n belum dimanfaatkan. Cangkang bulu babi memiliki kandungan mineral yang tinggi. Berpotensi menjadi sumber kalsium alami.
 
Syahira Addina, mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, FPIK, Institut Pertanian Bogor melakukan penelitian produksi kalsium dari cangkang bulu babi. Produksi kalsium dari cangkang bulu babi dalam ukuran nanopartikel dan, menganalisis kecepatan penyerapannya yang telah difortifikasi dalam susu kedelai pada tikus Sprague Dawley. Penelitian itu diberi judul Karakteristik Nanokalsium Cangkang Bulu Babi (Diadema setosum) dan Efektivitas Penyerapannya Secara In Vivo. Penelitian di bawah bimbingan Dr. Dra. Pipih Suptijah, MBA dan Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS.
 
“Susu kedelai adalah jenis susu imitasi. Bahan bakunya berasal dari bahan nabati. Susu kedelai memiliki kandungan gizi yang sangat baik. Mendekati kandungan gizi pada susu sapi. Tapi, kandungan kalsiumnya tergolong rendah. Dalam 1 cup susu kedelai hanya terdapat 61 mg kalsium. Dalam susu sapi, kalsiumnya mencapai 285 mg. Diperlukan fortifikasi nanokalsium pada susu kedelai untuk memenuhi kebutuhan kalsium lansia,” ungkap Syahira.
 
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi alternatif untuk membantu mengatasi permasalahan defisiensi kalsium pada lansia. Yang berakibat menurunnya penyerapan kalsium. (Humas IPB/NIRS/Zul/111)

Komunitas