IPB Temukan Obat Anti Jerawat dari Keong Bakau

Senin, 27 November 2017, 12:10 WIB

Keong Laut Matah Merah mensupport pertumbuhan sel normal dan menghambat kanker.

AGRONET - Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi 26 juta hektar areal perikanan laut dan pantai. Indonesia memiliki 8.500 spesies ikan, 950 spesies biota terumbu karang dan 555 spesies rumput laut. Luasnya wilayah perairan dan keanekaragaman biota laut ini merupakan modal dasar untuk mengembangkan nutraseutika dan farmaseutika dari perairan. Masyarakat Indonesia sudah turun temurun menggunakan hasil perairan sebagai obat atau penambah stamina. Hal ini menguntungkan nelayan atau masyarakat pesisir untuk bisa menjaga dan membudidayakannya serta untuk meningkatkan penghasilan. Contoh biota laut yang telah diteliti dan mempunyai komponen aktif adalah buah dan daun bakau hitam, keong matah merah, keong bakau, cacing laut dan lain-lain.

Melihat banyaknya potensi biota laut tersebut, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Sri Purwaningsih, mengembangkan beberapa produk nutraseutika dan farmaseutika dari rumput laut, ikan glodok (ikan yang tidak laku dijual), moluska, buah bakau dan keong bakau. Dalam orasi ilmiah yang digelar di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor (25/11), Prof. Sri memaparkan materi berjudul “Potensi Prospektif Hasil Perairan sebagai Bahan Nutraseutika dan Farmaseutika”.

Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kosmetik yang aman dan mengandung antioksidan alami sebagai penangkal radikal bebas, diperlukan skin lotion yang mengandung antioksidan. Prof. Sri menggabungkan karaginan rumput laut dan ekstrak buah bakau Rhizophora mucronata Lamk untuk membuat formula skin lotion tinggi antioksidan. Nama produknya adalah Carragee-mucrona-21 Skin Lotion. Produk ini masuk dalam Inovasi Indonesia 106, 2014.

“Riset kami yang berjudul Pemanfaatan Buah Bakau Rhizophora Mukronata Lamk sebagai Bahan Aktif Pelindung Kulit ini sudah berhasil mendapatkan paten dari Dikti,” ujarnya. Temuan lainnya yakni Dermamigo. Prof. Sri memanfaatkan hama tambak berupa keong bakau dan rumput laut untuk membuat gel antiacne dengan nama Dermamigo. Gel Dermagigo sangat efektif terhadap jerawat dan tidak meninggalkan bekas hitam, bahkan beberapa panelis jerawatnya sembuh dalam waktu 2-5 hari.

“Dermamigo ini mempunyai sifat yang stabil, dengan pH sesuai standar SNI, tidak mengandung logam berat Pb, Cd, Hg. Gel antiacne ini juga menjadi salah satu inovasi Indonesia 107 tahun 2015 lalu,” katanya. Selain menggabungkan beberapa biota laut menjadi produk kosmetik, Prof. Sri juga telah berhasil membuat beras SR-Grac dari rumput laut Gracilaria sp yang bisa mencegah diabetes. Beras ini mengandung karoten, tanin serta antioksidan yang tinggi. Riset beras SR Grac atau beras agar ini juga salah satu inovasi Indonesia 109, tahun 2017 dan termasuk program HAKI yang dibiayai Dikti tahun 2017.

“Banyak sekali potensi biota laut kita yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai nutraseutika dan farmaseutika. Contohnya Ikan Glodok yang tidak laku dijual, ternyata mengandung asam amino lengkap dan kadar taurinnya tinggi. Taurin ini berperan membuat jaringan tubuh berfungsi prima.  Contoh lainnya, ekstrak moluska berupa Keong Laut Matah Merah mensupport pertumbuhan sel normal dan menghambat kanker. Riset kami berjudul Sediaan Bahan sebagai Bahan Aktif Antikanker Payudara dari Ekstrak Keong Matah Merah dan Proses Pembuatannya masuk dalam program UBER HAKI yang dibiayai Dikti tahun 2017. Tapi ironisnya adalah impor bahan obat kita masih tinggi. Padahal bahan alam kita banyak. Hasil penelitian banyak, tetapi terkendala pada aplikasi pengguna,” terangnya.

Oleh karena itu, Prof. Sri memaparkan strategi pengembangan nutraseutika dan farmaseutika Indonesia dengan beberapa langkah, yakni peningkatan program penelitian calon perusahaan pemula berbasis teknologi; diseminasi dan komersialisasi hasil penelitian; penciptaan program penelitian kerja sama Dikti dengan Departemen Kesehatan; serta penambahan sarana dan prasarana. “Bila Dikti dan Kementerian Kesehatan atau IPB yang memiliki Fakultas Kedokteran Hewan dan Rumah Sakit Hewan, maka penelitian, pengembangan dan aplikasi nutraseutika dan farmaseutika akan maju dan nelayan makmur,” tandasnya. (Humas IPB/111)