Bersepeda Ke Kebun Raya Baturraden, Mengapa Tidak?

Rabu, 20 Desember 2017, 16:03 WIB

Juni Sumarmono, Penggemar bersepeda untuk rekreasi | Sumber Foto:dok. pribadi

AGRONET - Belum punya rencana untuk menikmati libur akhir tahun? Mengapa tidak bersepeda ke Kebun Raya Baturraden seperti yang dilakukan Juni Sumarmono.  Penggemar bersepeda untuk rekreasi ini menyebutkan,  "Kebun Raya Baturraden memang belum sepopuler Kebun Raya Bogor. Kebun raya yang dirintis sejak tahun 2001 dan diresmikan tahun 2015 ini sangat menarik dan layak untuk dikunjungi."

Wilayah seluas 143.5 ha terletak di lereng selatan gunung Slamet pada ketinggian bervariasi antara 750 - 900 dpl. Jarak dari kota Purwokerto cukup dekat yaitu sekitar 15 km saja. Jika menggunakan mobil atau sepeda motor maka hanya perlu waktu 20 menit saja untuk sampai di Kebun Raya Baturraden.

Jika mau, dapat menggunakan sepeda dari kota Purwokerto, tepatnya dari kampus Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Hanya dibutuhkan waktu satu atau satu setengah jam untuk “memancal pedal” dari kampus UNSOED ke Kebun Raya Baturraden dengan perbedaan ketinggian sekitar 650 meter. Iya naik sepeda onthel, kenapa tidak?

Penghobi sepeda dapat memilih salah satu jalur untuk menuju kebun raya atau lokawisata. Titik awal biasanya di depan rektorat UNSOED, ke arah utara melalui jalan Baturraden hingga gerbang Mandala Wisata yang merupakan pintu masuk area Baturraden. Dari titik start jalan sudah menanjak ringan kecuali satu tanjakan yang agak tinggi di desa Rempoah.

Sesampainya di gerbang Mandala Wisata terdapat 2 jalur menuju Kebun Raya Baturraden.  Pertama,  jalur tengah yaitu tetap di jalan Baturraden kemudian belok kanan di terminal Baturraden menuju area bumi perkemahan atau wanawisata, kemudian kebun raya.

 

Kedua, dapat dipilih jalur timur, yaitu belok kanan di gerbang Mandala Wisata melalui jalan Baturraden Timur hingga sampai di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU), belok kanan kemudian masuk bumi perkemahan hingga sampai kebun raya. Jika melalui jalur ini harus siap dengan tanjakan terjal di desa Kemutug Lor.

Jalur alternatif ketiga adalah dari kampus UNSOED melalui jalan Baturraden Barat yaitu Kutasari-Kebumen-Karangtengah-Karangmangu. Jalur ini akan bertemu di dengan jalur pertama (tengah) di terminal Baturraden. Jika melewati jalur ini maka harus siap dengan tanjakan terjal di desa Kebumen. Tantangan terakhir adalah jalan yang menanjak terjal sepanjang 2 km di dalam area hutan wisata, yaitu antara gerbang bumi perkemahan hingga sampai ke gerbang masuk kebun raya.

Jalur manapun yang dipilih, apakah itu jalur tengah, timur atau barat, semua menawarkan pemandangan yang indah dan jalan berkelok yang “instagramable”. Perjuangan di memancal sepeda di jalan yang menanjak dan energi ekstra sepanjang kurang lebih 12 km langsung terbayar begitu mencapai gerbang utama Kebun Raya Baturraden.

Udara segar lereng gunung Slamet dan koleksi ribuan tanaman langsung menguapkan kelelahan bersepeda. Tanaman pinus yang tinggi menjulang, berbagai tanaman bunga, dan tidak lupa koleksi anggrek spesi Baturraden dengan total lebih dari 2.300 spesies tumbuhan. Sebagian besar area masih berupa hutan pinus, namun tersedia area yang sudah ditata dengan baik untuk berjalan kaki dan juga tempat-tempat berteduh jika hujan.

Jangan lupa, wilayah Baturraden merupakan wilayah dengan curah hujan yang tinggi, yaitu rata-rata 1641 mm per tahun. Selain menikmati koleksi flora, makanan khas kota Purwokerto yaitu mendoan juga dapat dinikmati di kios-kios yang berada tidak jauh dari kebuh raya.

Jadi mengapa tidak bersepeda saja ke kebun raya Baturraden? Wisata hemat dan sehat.

*Juni Sumarmono, Dosen Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. (269)