Digitalisasi dan Korporasi Layanan Kewirausahaan Petani Indramayu

Jumat, 12 Januari 2018, 20:32 WIB

Layanan kewirausahaan petani melalui digitalisasi dan korporasi pertanian dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani.

AGRONET - Menteri BUMN, Rini M Soemarno mengatakan, saat ini terdapat 11 daerah di Jawa Barat yang menjadi percontohan digulirkannya layanan kewirausahaan petani melalui digitalisasi dan korporasi pertanian dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani. Daerah tersebut diantaranya, Kabupaten Indramayu, Karawang, Majalengka, Ciamis dan Cianjur.

Menurut Rini, untuk Kabupaten Indramayu dipilih Kecamatan Sliyeg untuk menjadi pilot project program kewirausahaan petani, karena cukup besar potensi pertaniannya. Melalui layanan kewirausahaan petani dan digitalisasi sistem pertanian, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pangan dan kesejahteraan petani kecil.

“Di Kecamatan Sliyeg ada 14 desa dengan jumlah petani sekitar 7.000 orang dan luas lahan 4.384 hektar. Di setiap desa itu, ada BUMDes sehingga total ada 14 BUMDes, lantas di tingkat kecamatan dibentuk Mitra BUMDes Bersama (MBB) Kecamatan Sliyeg,” ungkap Rini, saat menghadiri Peresmian Kewirausahaan Petani Sliyeg Indramayu, yang dilanjutkan dengan penanaman padi, Kamis (11/1).

BUMN menjadi pemegang saham MBB Sliyeg, yang berperan membantu petani sejak sebelum tanam, masa tanam, masa panen dan pasca panen, sesuai tupoksinya. Dalam kesempatan itu, Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong petani untuk memaksimalkan sistem digitalisasi pertanian dan kewirausahaan petani. Pasalnya, ada banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh petani.

“Selain memudahkan, juga akan mempercepat layanan administrasi serta bisnis yang berkaitan dengan petani atau pertanian,’’ tandas Anna.

Program digitalisasi sistem pertanian yang diinisiasi oleh PT. Telkom dan diluncurkan sejak Maret 2017, dilakukan melalui empat tahap, yakni tahap pra tanam dengan penerapan asuransi usaha tani dan kredit usaha rakyat dari sinergi PT. Jasindo, PT. Askrindo dan Himpunan Bank Negara (Himbara). Berikutnya tahap tanam dilakukan dengan penyediaan benih, distribusi pupuk, dan pendampingan dari sinergi PT. Pupuk Indonesia, PT. Pertani, PT. SHS dan PT. PNM.

Sedangkan tahap panen dilakukan dengan penyimpanan hasil panen dan resi gudang dari PT. Pegadaian dan selanjutnya tahap pasca panen, dilakukan dengan penjualan dan distribusi hasil tani yang merupakan wujud sinergi Perum. Bulog dan PT. Pupuk Indonesia. (KBRN/111)