Stok Melimpah, Ponorogo Tolak Keras Rencana Impor Beras

Sabtu, 13 Januari 2018, 11:34 WIB

Petani merasa terancam dengan rencana impor beras karena akan menjatuhkan harga jual gabah petani seperti tahun sebelumnya. | Sumber Foto:KBRN

AGRONET - Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo menolak keras rencana impor beras yang digulirkan pemerintah pusat, menyusul naiknya komoditas beras dalam beberapa pekan terakhir. Pasalnya, produksi padi atau beras di Kabupaten Ponorogo setiap tahunnya cukup melimpah.

Data dari Dinas Pertanian dan Perikanan Ponorogo, produksi padi Ponorogo sebanyak  500.000 - 600.000 ton per tahun, sedangkan  konsumsi untuk warga Ponorogo sendiri hanya sebanyak 196.000 ton, artinya mengalami surplus hingga 400.000 ton.  

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Ponorogo Harmanto menjelaskan, target luas tanam di Kabupaten Ponorogo seluas 78.797 hektar tercapai 79.845 hektar atau sekitar 101?ngan baku tanah 34. 810 hektar.

Dengan produktivitas padi yang terus meningkat di Kabupaten Ponorogo, Harmanto menilai kebijakan impor akan menjadi pukulan bagi para petani, karena akan menurunkan kesejahteraan mereka. Karena harga gabah yang kompetitif setara dengan biaya yang dikeluarkan para petani untuk  menutupi biaya produksi.

“Ponorogo masih surplus. Produksi Ponorogo di atas rata-rata produksi Jawa Timur. Kami bisa menyumbang 350.000 sampai 400.000 ton, jadi tidak perlu impor. Kita di dua pihak. Kita juga paham kenaikan harga tapi kita juga harus melindungi petani,” terang Harmanto, Jumat (12/1).

Harmanto berpendapat, jika pemerintah ingin menurunkan harga beras dan petani masih untung maka hal itu dapat dilakukan dengan membantu petani menekan biaya produksi, sekaligus berusaha meningkatkan produktivitas pertanian.

Sebelumnya, kabar tentang rencana pemerintah untuk mengimpor beras dari luar negeri sebagai CBP (Cadangan Beras Pemerintah) mendapat reaksi keras dari petani. Petani merasa terancam dengan  rencana tersebut karena akan menjatuhkan harga jual gabah petani seperti tahun sebelumnya. (KBRN/111)