Kiat Sukses Parung Farm Menjadi Suplayer Sayuran Sehat

Senin, 15 Januari 2018, 17:39 WIB

Yudi Supriyono, Direktur Utama PT Kebun Sayur Segar (Parung Farm) memberikan paparan pada acara Seminar Nasional Hidroponik Komersial di IPB Convention Center Bogor Jawa Barat 13 Januari 2018, yang diselenggarakan oleh Nudira Learning Center. | Sumber Foto:Agronet

AGRONET - Cikal bakal Parung Farm adalah Yayasan Agribisnis Parung, berdiri tahun 1998. Setelah jatuh bangun menekuni usaha hidroponik dan semua hambatan bisnis sayur tanpa media tanah ini dikuasai, kini Parung Farm menjadi pemasok sayuran sehat terbesar di Jabodetabek.

”Ada hal penting dalam bisnis hidroponik, yaitu hobi dan loyalitas, bukan bekerja yang ditentukan oleh jam kerja,” kata Yudi Supriyono, Direktur Utama PT Kebun Sayur Segar/Parung Farm, Depok, Jawa Barat, dalam paparannya pada acara Seminar Nasional Hidroponik Komersial di IPB Convention Center Bogor Jawa Barat 13 Januari 2018, yang diselenggarakan oleh Nudira Learning Center.

Sukses Parung Farm bukan tiba-tiba. Namun melalui perjalanan panjang. Pada 2002 untuk dapat memasok dagangan di supermarket harus melalui lembaga, tidak bisa perorangan. Baru pada tahun 2005, supermarket mengizinkan produk perorangan dapat dipajang di etalasenya.

Kisah Parung Farm masih panjang. Agar dapat memproduksi sayuran dengan media tanam air ini, semua eksperimen telah dicoba khususnya dari segi bahan dan teknologi. Bagaimana caranya agar biaya produksi murah namun hasil tetap premium, lanjut Yudi dalam paparannya dengan tema ”Kiat Sukses Bisnis Hidroponik Rumahan Hingga Komersial”.

Yudi berkisah, awalnya Parung Farm membangun kebun hidroponik dengan bambu. Seiring dengan perkembangan teknologi, bambu tergantikan oleh paralon, asbes, dan terakhir talang air. Media terakhir inilah yang bertahan lama karena perawatannya mudah, biaya relatif lebih murah, dan aliran air nutrisi lebih merata.

”Memang instalasi kami belum semuanya food grade, termasuk talang air yang dipakai,” ujar Yudi. Kepada produsen talang air maupun paralon Yudi pernah menanyakan apakah ada jaminan food grade. Namun hingga kini belum ada jawaban yang memuaskan. Tetapi justru dengan cara ini Parung Farm dapat menekan biaya produksi. Yudi menegaskan jika kita menggunakan instalasi hidroponik dengan kualitas food grade maka investasi yang ditanam tiga kali lipat dibanding dengan menggunakan talang air.

Tantangan berat bagi Parung Farm saat ini adalah menyesuaikan manajemen produksi dengan kebutuhan konsumen, karena kedua hal ini tidak pernah bisa dipertemukan. Kadang permintaan tinggi, namun dilain waktu merosot sampai titik terendah. Sementara itu dalam planting management, hidroponik tidak boleh menunda panen karena akan mengganggu rantai yang sudah tersusun satu sampai dua bulan ke depan. "Masalah lain, supermarket tidak mau kontrak berdasarkan item namun berdasarkan omset mengikuti kebutuhan konsumen," jelas Yudi.

Seminar yang menghadirkan para pebisnis hidroponik skala nasional dan internasional ini dihadiri lebih dari 130 peserta dari seluruh Indonesia. (020)

 

 

BERITA TERKAIT

Agronesia Utama
Komunitas