Petani Tembakau Berharap Permendag Impor Dijalankan

Minggu, 11 Pebruari 2018, 20:35 WIB

Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo menjelaskan penerapan Permendag Nomor 84/2017 di hadapan para petani tembakau.

AGROMET - Petani tembakau merasa lega dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 84 tahun 2017 tentang Pengaturan Impor Tembakau. Pasalnya, peraturan itu akan melindungi mereka dari serbuan impor tembakau yang bisa mematikan usahanya.

“Pada waktu itu kita diundang tanggal 30 (Oktober 2017). Tanggal  2 (November 2017), Permendag Nomor 84 tentang ketentuan importasi tembakau ditandatangani. Alhamdulillah karena selama ini impor mboten diatur. Nek impor mboten diatur, lama-kelamaan nasib kita akan seperti petani bawang (putih). Pas regane larang, diantem bawang impor, akhirnya mboten pajeng  (tidak laku),” kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Nasional, Parmudji, saat melakukan Sosialisasi Perdana Permendag Nomor 84 Tahun 2017 di Desa Genito Kidul Windusari, Jumat (9/2).

Parmudji menceritakan, dia dan Ketua DPD APTI Jateng, Wisnu Broto, pernah berkunjung ke Cina dan Thailand. Dalam kunjungan itu mereka melihat ada lahan tembakau 200 ribu hektare. ini dinilai bisa membahayakan bagi keberlangsungan hidup petani tembakau dalam negeri.

“Kan nyamari niku nek mboten  (mengkhawatirkan kalau tidak) diatur tentang ketentuan impor,” ucapnya. Parmudji mengapresiasi konstruksi pasal dalam Permendag Nomor 84/ 2017, yang mengatur secara teknis impor tembakau dengan tidak merugikan petani tembakau dalam negeri. Sebanyak 30 persen pasal permendag itu  mengatur bagaimana petani bisa diuntungkan dan berdaulat di negaranya sendiri.

“Ketentuan izin impor berdasar rekomendasi kementerian pertanian tapi mengacu pada penyerapan lokal. Nek sing tuku lokale sithik (kalau yang membeli lokal sedikit), impore dibuka sedikit. Jika tak ada yang membeli, tidak usah dibuka impornya. Kalau yang membeli banyak, dibuka (impor) banyak tapi tidak melebihi kapasitas nasional,” jelasnya. Saat ini, para petani tembakau berharap, permendag itu segera dilaksanakan, paling tidak di bulan April menjelang panen.

“Kalau April diberlakukan, kita yang nandur bisa berharap,” katanya. Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo menyampaikan, produk tembakau memang didorong pihaknya untuk bisa bermanfaat menjadi produk selain rokok. Ganjar berpendapat, ide Bupati Temanggung untuk membuat pusat penelitian tembakau sangat bagus.

“Itu yang dulu kita dorong-dorong, mestinya ada tobaccoo center. Justru komoditas tembakau perlu dikembangkan. Jika berkembang, kualitasnya bagus, dunia kita kuasai. Jangan dibalik, lha kita yang punya kok. Gusti Allah yang memberi rezeki. Lereng Sindoro Sumbing tembakaunya luar biasa. Tembakau Srintil itu benar-benar khas, tiada duanya,” kata dia. (Humas Prov. Jateng/111)