Kementan Targetkan 1.000 Ekor Kelahiran Sapi Belgian Blue

Minggu, 11 Maret 2018, 18:47 WIB

Sapi Belgian Blue

AGRONET - Untuk mempercepat peningkatan populasi sapi, pemerintah akan menambah sapi indukan impor dan melanjutkan kegiatan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) pada tahun 2018. Selain itu juga melakukan pengembangan sapi ras baru, yaitu Belgian Blue di Indonesia.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menargetkan, pada tahun 2019 akan lahir anak sapi (pedet) keturunan Belgian Blue sebanyak 1.000 ekor. Upaya ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan produksi daging sapi di Indonesia melalui peningkatan mutu genetik ternak. Program pengembangan sapi ras baru tersebut telah diuji coba pada 2017 dan mulai difokuskan pengembangannya tahun 2018.

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan juga telah menyusun road map untuk pengembangannya. "Sapi Belgian Blue merupakan salah satu “breed” baru yang masuk ke Indonesia dan juga merupakan salah satu sapi terbaik di Eropa yang berasal dari Belgia," kata Sugiono, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH saat melakukan peninjauan di BET Cipelang, Bogor, Sabtu (10/3).

Alasan dipilihnya sapi Belgian Blue (BB) untuk dikembangkan secara khusus oleh Kementerian Pertanian adalah sapi jenis ini memiliki persentase karkas lebih tinggi, 70 sampai 80 persen, dibandingkan sapi lainnya. Jika pengembangan sapi BB dilakukan melalui semen beku/embrio BB, maka akan jauh lebih murah dibandingkan memasukan sapi hidup dari negara asalnya. Pengembangan sapi BB dilakukan melalui teknologi Inseminasi Buatan (IB) dan Embrio Transfer (ET) yang diawali dengan uji coba Impor pada tahun 2015-2016 sebanyak 22 embrio dan semen beku 200 dosis di BET Cipelang, Bogor secara tertutup.

“Sampai Maret 2018, kita telah berhasil melaksanakan kegiatan Transfer Embrio (TE) sebanyak 372 embrio dan dilahirkan 20 ekor sapi BB melalui IB dari persilangan (Simental, Limousin, dan FH) dan hasil Embrio Transfer 3 ekor,” ungkap Sugiono. Saat sapi yang dalam kondisi bunting hasil TE sebanyak 10 ekor dan IB 36 ekor. Selain itu, di Balitnak Ciawi juga terdapat 4 ekor sapi bunting hasil TE.

“Sapi keturunan Belgian Blue yang merupakan hasil persilangan dengan bangsa lain dapat lahir dengan normal tanpa kesulitan melahirkan,” ujarnya. BET Cipelang pada tahun 2017 juga telah melakukan Pelatihan Transfer Embrio kepada petugas sebanyak 30 orang di 10 UPT terkait, pengadaan embrio sapi BB 900 dosis dan pada tahun 2018 pengadaan semen beku BB, embrio 900 dosis dan pelatihan Caesar. Sugiono menegaskan, pengembangan sapi ras baru ini juga merupakan langkah kegiatan strategis pemerintah untuk keluar dari ketergantungan terhadap impor, sehingga dengan adanya sapi pejantan unggul, maka akan dapat memenuhi kebutuhan donor di Balai Inseminasi Buatan nasional atau daerah.

Kegiatan pengembangan sapi BB saat ini lebih difokuskan di Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian, yaitu BBPTU-HPT Baturraden 250 ekor, BET Cipelang 179 ekor, BPTU-HPT Padang Mengatas 185 ekor, BPTU-HPT Sembawa 237 ekor, BBPP Batu-Malang 30 ekor, STTP Malang 17 ekor, BBPPKH Cinagara 14 ekor, STPP Bogor 7 ekor, STTP Magelang 25 ekor, Loka Penelitian Sapi Potong (Lolit) Grati 23 ekor, Balitnak Ciawi-Bogor 44 ekor.

Hal ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2011 tentang Sumber Daya Genetik Hewan dan Perbibitan Ternak, di mana rumpun baru yang masuk ke NKRI perlu mendapat rekomendasi dari Komisi Bibit Ternak. Oleh karena itu, pengembangan sapi BB harus dilakukan dalam lokasi tertutup (closed breeding) dan belum melibatkan masyarakat peternak.

“Kegiatan ini sudah tepat, karena untuk tahap awal lokasi pengembangan adalah di UPT-UPT lingkup Kementerian Pertanian sehingga belum melibatkan masyarakat peternak,” ungkap Sugiono. Selama periode 1 tahun ini, Kementan telah melakukan berbagai pengkajian terkait pengembangan sapi ras baru ini.

“Sebelum sapi jenis Belgian Blue ini dapat dilepas ke peternak, kami bersama Tim Pakar dari akademisi juga melakukan pengkajian,” ungkap Sugiono. Lebih lanjut Sugiono menjelaskan, kajian ini dilakukan agar diketahui potensi dan performa sapi Belgian Blue dengan tepat, sebelum dikembangkan di masyarakat. Menurutnya, ada beberapa kelemahan dalam pengembangan sapi Belgian Blue yakni sering terjadi kesulitan melahirkan dan memerlukan tindakan sectio caesarea (SC) pada anak TE, sehingga memerlukan manajemen pemeliharan dan pakan untuk mendukung metabolisme tubuhnya agar pertumbuhan otot dapat berkembang secara normal.

Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan derajat kesuksesan dalam pengembangan sapi Belgian Blue yaitu, pengetahuan dan keahlian (skill), metoda pemeliharaan dan penanganan pedet yang baru lahir sampai 6 bulan, temperatur atau suhu yang cenderung lebih panas bila diperbandingkan dengan di tempat aslinya. “Untuk itu, dalam pengembangan sapi Belgian Blue ini Kementan telah membentuk Tim Sekretariat Kelompok Kerja (POKJA) dan Tim Pakar Pendamping, serta melibatkan Perguruan Tinggi dari Institiut Pertanian Bogor dan Universitas Gadjah Mada untuk menyukseskan pelaksanaannya,” pungkasnya. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementan/111)

BERITA TERKAIT