UGM Diminta Ikut Majukan Pertanian Indonesia

Selasa, 13 Maret 2018, 17:52 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman disela memberikan kuliah umum di depan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

AGRONET - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa untuk mencapai kesejahteraan pertanian, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, pertama, masalah kebijakan. Salah satunya, regulasi tender diubah menjadi pengadaan langsung melalui e-catalog karena masalah pertanian harus diselesaikan segera mungkin, seperti pemberian bantuan.

"Ini tanaman semua, enggak bisa tunggu. Hari ini butuh, hari ini dikirim," ujarnya, disela memberikan kuliah umum di depan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM), Auditorium Prof. Harjono Danoesastro, Komplek Kampus UGM, Yogyakarta, Senin (12/3). Dua hari setelah melaporkan masalah tersebut ke Presiden Joko Widodo, regulasi terkait langsung direvisi.

Jika tak diubah dan distribusi pupuk terlambat satu pekan, menurut perhitungannya, ditaksir kehilangan Rp 40 juta dengan ssumsi per hektare menghasilkan 10 ton gabah. "Kebijakan keliru jauh lebih dahsyat (bahayanya) daripada koruptor dan begal. Bahkan, kami berpikir, seluruh anggaran pertanian turun Oktober, karena sudah masuk musim hujan. Jangan Januari," jelasnya.

Usulan tersebut sempat ditentang sejumlah pejabat di Kementerian Pertanian (Kementan) karena dikhawatirkan Menteri Amran tersandung masalah hukum di kemudian hari, lantaran pemenang pengadaan sarat akan korupsi. Tak pendek akal, Amran kemudian menyambangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan instansi penegak hukum lainnya. "KPK tolong bantu kami. Kami tidak pernah belajar hukum, pasal-pasal. Yang dipelajari, bagaimana dapatkan bibit unggul," ucapnya.

Alhasil, kini ada petugas KPK, Polri, dan Kejaksaan bertugas di Kementan. Mereka mengawasi anggaran agar tetap sesuai prosedur. Amran juga mengubah kebijakan terkait anggaran. Bila sebelumnya mayoritas dialokasikan untuk keperluan internal, sekarang diubahnya. Nilainya sekitar Rp 12 triliun per tahun.

"Biaya perjalanan dinas kami kurangi, biaya seminar kami kurangi. Uangnya dibelikan bibit unggul yang produksi 10 ton, kita belikan tiga juta hektar. Kalau beli benih langsung produksi 10 ton (untuk lahan) luasnya tiga juta daripada seminar 1.000 kali, masih tinggi hasilnya yang tiga juta hektar," terangnya. Pada 2018, 85 persen dari total anggaran Kementan dialokasikan untuk petani.

Kedua,  Amran membenahi sumber daya manusia (SDM). Upaya yang dilakukan di antaranya memperkenankan KPK menyadap pejabat di Kementan, memecat dan mencopot oknum yang terbukti rasuah. "Ini lelang jabatan yang demosi, mutasi, pecat, 1.295 (orang). Tambah satu kemarin. Total ada 1.296 (pejabat) sampai hari ini," ungkapnya. Proses administrasi langsung dikerjakan, begitu mendapatkan informasi anak buahnya terlibat permainan anggaran.

Amran pernah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kantor Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saat melakukan sidak dengan gaya seadanya tanpa pengawalan itu, ia mendapatkan oknum setempat "bermain" dengan importir agar proses pengecekan berlangsung cepat. Berikutnya, memerintahkan pimpinan Karantina setempat memecat pegawai tersebut.

Setelahnya, kinerja petugas karantina membaik sehingga dwelling time pertanian di Tanjung Priok kini menjadi 0,9 hari. Melalui kebijakan tersebut,  Amran optimis produksi sudah naik. Alasannya, bantuan berkualitas langsung didistribusikan dan fokus terhadap pengembangan komoditas tertentu.

"Kemudian, kita masuk ke infrastruktur. Salah satunya memperbaiki irigasi tiga juta hektar. Mulanya ditargetkan tiga tahun rampung oleh Presiden. Tapi, dia menginstruksikan jajaran Kementan mengerjakannya dalam tempo satu tahun. Akhirnya, beres dalam waktu tiga bulan lebih lama dari yang dimintanya,” jelasnya.

Keempat, adalah membenahi masalah alat mesin pertanian (alsintan). Katanya, inovasi dalam negeri cukup rendah, lantaran peneliti kurang dihargai. Karenanya, dia meminta Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membuat regulasi agar inovator mendapatkan royalti.

Setelah mendapat "lampu hijau" dari Kemenkeu, belakangan peneliti mulai giat mengembangkan alsintan. Untuk itu, Amran meminta mereka membuat beragam alsintan. "Minta buat combine harvester, excavator, buat traktor, semua jadi," urainya.

Menurut Amran, harus ada lompatan dan tidak bisa kalau terstruktur cara berpikirnya. “Indonesia akan kekurangan pangan nanti. Inovasi bibit unggul kian marak. Produksi melonjak, ekspor menggeliat. Buktinya, sudah berhasil ekspor beras, jagung, dan bawang merah ke sejumlah negara. Manfaat lain, petani merasakan keuntungannya,” tambahnya. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementan/111)