Agroforestri Solusi Alternatif Pemanfaatan Lahan Hutan

Sabtu, 14 April 2018, 04:17 WIB

Hutan | Sumber Foto:Pixabay

AGRONET - Indonesia merupakan  negara kedua yang setiap tahunnya kehilangan lahan hutan tertinggi di dunia setelah Brazil. Sejak tahun 2010, Menurut data yang dirilis Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA), setiap tahun Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi hutan.

Untuk mengurangi semakin masifnya perusakan atau perambahan hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menawarkan solusi agroforestri. Agroforestri merupakan salah satu sistem pengelolaan lahan hutan dengan tujuan untuk mengurangi kegiatan perusakan/perambahan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Dr. Kirsfianti L. Ginoga pada acara Alih Teknologi Sistem Agroforestri dan Pengolahan Kopi untuk Mendukung Pengembangan Agribisnis Berbasis Hutan di Desa Sumber Bandung, Kecamatan Pagelaran Utara, Kabupaten Pringsewu, Lampung, (10-11/4).

Etty menjelaskan, melalui alih teknologi diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi agroforestri yang efektif dan efisien. “Dengan sumberdaya yang ada, lahan dan modal terbatas masyarakat dapat memanfaatkan dan meningkatkan produktifitas lahan untuk agroforestri kopi.” Tambah Etty.

Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi, Y. Ruchyansyah  berharap, melalui alih teknologi akan diperoleh peningkatan semangat kemandirian petani di Desa Sumber Bandung.

Alih Teknologi ini merupakan salah satu bagian kegiatan kerjasama Pusat Litbang Hutan dengan Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) di Kemitraan Kehutanan Cempaka – KPH Batutegi yaitu: Livelihood Development – Sistem Agroforestri dan Pengolahan Kopi. Agroforestri yang diterapkan oleh Kelompok Tani Kemitraan Cempaka yaitu menanam kombinasi jenis tanaman kayu dan non kayu maupun tanaman semusim pada lahan hutan dan berbasis Hasil Hutan Buka Kayu (HHBK).

Nara sumber Alih Teknologi adalah Bapak Mukidi dari Temanggung yang merupakan petani sekaligus pengusaha kopi, alih teknologi ini diikuti oleh 43 peserta yang berasal dari Kelompok Tani Kemitraan Cempaka, KPH Batutegi, Lampung. (Litbang KLHK/222) 

BERITA TERKAIT