Peneliti Indonesia Terima Penghargaan FAO

Rabu, 30 Mei 2018, 17:01 WIB

Logo FAO

AGRONET--Badan Pertanian dan Pangan PBB (FAO) bekerja sama dengan Kemitraan Pertanahan Global (GSP) memberikan penghargaan pada beberapa peneliti di bidang pertanian. Salah satu yang menerima penghragaan adalah Dr Yiyi Sulaeman, peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian.

Yiyi menerima penghargaan dalam simposium Kesehatan Tanah dan Pembangunan Berkelanjutan di Cina beberapa waktu lalu. Ia merasa mendapat perhatian lebih dari lembaga internasional tersebut. Ia berharap pengalaman implementasi dari setiap strategi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi yang hadir pada acara tersebut, yakni Bangladesh, Cina, Jepang, Laos, India, Thailand, Korea Selatan, Nepal, Filipina, Mongolia, Italia, Brasil, Sepanyol, dan Rusia.

"Penghargaan ini saya persembahkan untuk segenap petani kita yang menerapkan paket teknologi serta para peneliti yang menciptakan paket teknologi. Ini juga untuk para pimpinan kita melalui kebijakan dan dukungannya untuk kemajuan pertanian ini," kata dia.

Sebagai pembicara kehormatan dalam simposium itu, Yiyi menyampaikan pemikirannya terkait strategi manajemen implementasi guna meningkatkan bahan organik tanah di wilayah agroekosistem tropis dengan acuan utama Indonesia. "Sekitar 70 persen tanah Indonesia kandungan bahan organik tanahnya rendah," tutur Yiyi dalam siaran persnya hari ini (30/5).

Ia menjelaskan, penyebab utama yang membuat tanah sakit ialah karena secara alami tanah di wilayah tropis memunyai laju pelapukan bahan organik yang lebih cepat akibat suhu yang lebih panas. Juga terjadi penambahan bahan organik yang rendah dan kehilangan humus akibat erosi.

Yiyi menjelaskan, bahan pertanian Indonesia dibagi menjadi delapan agroekosistem. Masing-masing adalah sawah irigasi, sawah tadah hujan, lahan kering masam, lahan kering iklim kering, lahan rawa lebak, lahan rawa pasang surut, lahan sayuran dataran tinggi dan lahan perkebunan.

Saat ini Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian telah merampungkan peta karbon organik tanah pada dalam rangka implentasi GSP. Dari temuan itu, secara umum lahan-lahan pertanian memunyai kadar karbon organik yang rendah. Ia mengatakan, tanah dengan kadar karbon organik kurang dari dua persen tergolong rendah. Lantaran itu tanah tersebut tergolong  sebagai tanah sakit.

Menurut Yiyi, setiap agroekosistem ini memiliki tantangan tersendiri. “Tantangan itu bisa meliputi aspek fisik lahan, aspek sosial, maupun aspek infrastuktur pertanian," ujar dia. Pemerintah juga membuat kebijakan penerapan pengelolaan tanah berkelanjutan bagi setiap agroekosistem. (442)

BERITA TERKAIT