PTPN X Siapkan Petani Tebu Milenial

Selasa, 03 Juli 2018, 08:16 WIB

Kebun tebu | Sumber Foto:Pixabay

AGRONET – Selain masalah semakin berkurangnya lahan pertanian. Regenerasi petani merupakan salah satu momok bagi Indonesia saat ini. Anak muda, terutama generasi milenial, cenderung memilih bekerja atau berprofesi di industri hilir daripada menjadi petani.

Dilatarbelakangi masalah tersebut, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X mengadakan Pelatihan Petani Milenial angkatan ke-II di Kediri, Jawa Timur, Senin (2/7/2018) di Ballrom Grand Surya, Kota Kediri.Pelatihan yang digelar selama dua hari ini bertujuan untuk memotivasi dan melakukan transfer knowledge kepada para petani generasi muda untuk giat berbudidaya tebu.

Ada sebanyak 50 orang petani muda yang ikut dalam pelatihan selama dua hari ini. Mereka petani milenial binaan dari 9 pabrik gula milik PTPN X yang tersebar mulai Sidoarjo, Jombang, Nganjuk, Kediri dan Tulungagung. Semuanya mengikuti materi yang disampaikan oleh petugas tanaman dari PTPN X.

Tak hanya itu, materi tersebut diikuti dengan diskusi tentang Peluang Bisnis Tebu dan Perkembangan Potensi Tebu bersama perwakilan APTRI yang bertempat di Hotel Grand Surya, Kediri.

Acara ini juga dihadiri Kepala Cabang PT Jasa Raharja Jatim, Suhadi. Dalam kesempatan tersebut, Suhadi menyampaikan tentang dana PKBL sejumlah Rp 25 miliar guna pengembangan kompetensi petani tebu PTPN X.

Direktur Operasional PTPN X, Mustaqim menjelaskan, PTPN X selalu berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan on farm, termasuk secara aktif membina para petani di masing-masing wilayah pabrik gula melalui pelatihan milenial kali ini. Pelatihan milenial kali ini akan menumbuhkan semangat generasi penerus petani tebu yang berkualitas.

“PTPN X memiliki jumlah petani tebu sebanyak 9.000 kelompok tani. Mengingat saat ini sudah terjadi pergeseran kepemilikan lahan tebu dari orang tua kepada anaknya, maka menjadi penting untuk memberikan transfer knowledge kepada petani-petani tebu milenial ini. Pelatihan ini merupakan strategi untuk memotivasi petani muda dalam hal menanam tebu," ungkap Mustaqim.

Bukan hanya melalui pelatihan, upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada petani juga dilakukan melalui penerapan mekanisasi. Penggunaan alat mesin yang sudah dimulai sejak tahun 2011 hingga saat ini sudah mengarah pada penerapan mekanisasi penuh.

Mustaqim menjelaskan penerapan mekanisasi ini bertujuan untuk membuat pekerjaan on farm lebih efektif dan efisien sehingga pertumbuhan tanaman menjadi seragam. Selain itu, adanya mekanisasi juga membuat kualitas Bahan Baku Tebu (BBT) terdongkrak, yang pada ujungnya semua upaya intensifikasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Upaya lainnya adalah melalui pelaksanakan rating varietas yang bertujuan untuk menilai keragaman dan potensi tebu dengan memberikan gambaran langsung kepada petani akan adanya varietas-varietas unggul pilihan lainnya.
Ada sembilan varietas yang memiliki potensi lebih unggul daripada Bululawang yang bisa dipilih petani untuk meningkatkan pendapatan kebunnya sekaligus meningkatkan minat budidaya tebu secara lebih luas lagi. Lima varietas di antaranya adalah hasil rekayasa pemuliaan di Puslit Gula Jengkol.

Selain itu, juga disediakan warung tebu sebagai kebun display varietas-varietas tebu unggulan yang dapat dipilih oleh petani, yang sedang dikembangkan di Jombang dan Kediri, disertai dengan penerbitan buku katalognya. Dengan demikian, diharapkan petani akan lebih mudah dalam memilih atau memesan bibit unggul kepada pabrik gula pembinanya, sesuai dengan rencana bulan tanam maupun tipologi lahannya. (KBRN/Bud/222)

BERITA TERKAIT