Embun Upas Matikan Puluhan Hektar Kentang di Dieng

Senin, 09 Juli 2018, 13:39 WIB

kentang | Sumber Foto:pixabay

AGRONET - Sejak satu pekan terakhir wilayah Dieng Banjarngera, mengalami suhu dingin hingga minus 4 derajat celsius. Dampaknya embun di atas daun tanaman pertanian membeku, atau warga menyebut embun upas.
Kepala Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara Slamet Budiono mengatakan, sejak Jumat 6 Juli 2018, embun upas mulai terlihat di sejumlah lahan pertanian seperti kentang dan sayuran. Kondisi ini menyebabkan tanaman mati, dan harus diganti dengan tanaman baru.

Matinya tanaman ini terjadi, akibat daun yang terkena embun upas mengering. Data yang dihimpun oleh Pemerintah Desa Dieng Kulon hingga Senin (9/7/2018) sudah ada 35 hektar lahan pertanian yang terdampak embun upas. Angka ini diperkirakan akan semakin luas, seiring dengan puncak musim kemarau yang akan terjadi pada bulan Agustus 2018.

Menurut Slamet fenomena embun upas, sudah biasa terjadi di Dieng. Namun untuk kemunculan pada tahun ini, lebih cepat dari biasanya yang terjadi pada bulan Agustus-September. Karena sudah terbiasa dengan fenomena alam ini, sejumlah petani telah melakukan antisipasi. Diantaranya menahan untuk tidak menanam tanaman, ataupun telah menyiapkan tanaman penganti.

Ditambahkan oleh Slamet, meski menyebabkan kematian pada tanaman pertanian warga. Embun upas juga berdampak pada peningkatan hasil panen berikutnya. Karena fenomen embun upas ini, menyebabkan kematian pada penyakit tanaman.

“Kalau dampak negatif kaya masyarakat, yang punya tanaman umur 40-65 hari merasa rugi. Akibat tanaman khususnya kentang mati. Kalau keseluruhanya yang terdampak antara 30-35 hektar, tersebar hampir di semua wilayah Dieng,” kata Slamet.

Dijelaskan oleh Slamet, pada Jumat pekan kemarin suhu di wilayahnya mencapai -4 derajat celsius, namun pada awal pekan ini suhu mulai naik pada kisaran 15 derajat celsius.

Sedangkan Prakirawan Cuasa dari Stasiun BMKG Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan, puncak suhu dingin di wilayah Selatan Jawa akan terjadi pada Agustus 2018, pada saat puncak musim kemarau. (KBRN/RA/222)

 

BERITA TERKAIT