Indonesia dan ICRI Bicarakan Rencana Aksi 2018 – 2020

Selasa, 10 Juli 2018, 10:06 WIB

Menteri Susi bersama delegasi peserta ICRI di Paris (06/07) | Sumber Foto:Biro Humas dan Kerja sama KKP

AGRONET – Pada kunjungan kerjanya di Paris beberapa waktu lalu, tak hanya mewakili Indonesia dalam serah terima Sekretariat International Coral Reef Initiative (ICRI) dari Prancis kepada Indonesia, Australia, dan Monaco, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga mengusung beberapa agenda penting lainnya. Di samping mengusulkan pengelolaan perikanan karang menjadi agenda utama ICRI yang disepakati sebagai bagian dari Rencana Aksi sekretariat ICRI 2018 – 2020, Menteri Susi bersama delegasi Australia dan Monaco juga membahas agenda sekretariat ICRI dalam beberapa waktu ke depan. Salah satu yang terdekat adalah penyelenggaraan High Level Meeting on Coral Reef di sela penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) di Bali, 29 Oktober 2018 mendatang.

Agenda utama pengelolaan terumbu karang dapat dimanfaatkan ICRI untuk menyentuh aspek teknis operasional, khususnya di negara berkembang yang masih menghadapi kendala pengelolaan berkelanjutan terumbu karang karena tantangan dimensi sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu, Indonesia bersama ICRI menyepakati salah satu fokus, yaitu restorasi ekosistem terumbu karang melalui restorasi masyarakat pesisir dan keluarga yang toleran (restoration of coral reef through community restoration and family tolerant).

Menteri Susi berpendapat, kepedulian masyarakat pesisir dan keluarga ini dapat ditingkatkan melalui beberapa langkah praktis. Salah satunya melalui pemberian kacamata kedap air (google) bagi anak sekolah dan generasi muda di wilayah yang memiliki ekosistem terumbu karang, seperti halnya yang telah dilakukan KKP di beberapa tempat seperti di Kampung Sahare, Distrik Fak-fak Timur, Papua Barat dan Desa Bone Baru, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah.

“Kita bisa menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian terumbu karang mulai dari generasi muda. Langkah sederhana yang mungkin bisa dilakukan dengan memberikan kacamata selam kepada anak-anak sekolah, agar mereka bisa melihat betapa indah dan beragamnya terumbu karang di laut. Dengan demikian, kita telah memupuk kecintaan, rasa memiliki, dan kesadaran mereka akan pentingnya menjaga terumbu karang tetap lestari,” terang Menteri Susi.

Menteri Susi berpendapat, meminta anak-anak dan generasi muda untuk menjaga kelestarian terumbu karang, tanpa mereka pernah mengetahui dan menyaksikannya secara langsung adalah upaya yang sia-sia.
Selain itu, Menteri Susi juga mengusulkan penanganan terhadap adanya kecenderungan menjadikan kerusakan karang akibat penangkapan ikan karang hidup konsumsi (live reef food fish/LRFF) sebagai alasan untuk melakukan reklamasi di kawasan pesisir. “Banyak yang menjadikan alasan rusaknya terumbu karang sebagai pembenaran untuk melakukan rehabilitasi dengan cara reklamasi, seperti yang belakangan semakin marak terjadi,” tuturnya.

Maka dengan pengelolaan yang benar, terumbu karang akan tumbuh subur, sehingga tidak ada lagi alasan rehabilitasi dengan reklamasi yang akan mempersempit lautan yang merupakan ladang pencaharian nelayan.

Perluasan Keanggotaan ICRI

Guna mempeluas semangat pelestarian terumbu karang berkelanjutan ini, Indonesia yang tergabung dalam Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) akan mengajak negara anggota CTI-CFF lainnya seperti Timor Leste dan Papua Nugini sebagai anggota ICRI. Indonesia juga berencana mengajak negara-negara Afrika untuk bergabung melalui forum yang dibentuk Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Sementara itu, Monaco akan melakukan pendekatan dengan negara-negara Timur Tengah dan yang berada di Laut merah,. Adapun Australia akan memfasilitasi negara-negara Pasifik untuk bergabung dalam keanggotaan ICRI.
Delegasi Monaco yang dipimpin oleh Minister Plenipotentiary, Special Adviser to the Prime Minister on Sustainable Development Issues, Mr. Fautrier juga mengusulkan ICRI agar lebih melibatkan sektor swasta dalam upaya restorasi dan pelestarian terumbu karang. Fautrier berpendapat, banyak perusahaan telah menunjukan keinginan untuk terlibat lebih mendalam dalam pengelolaan berkelanjutan terumbu karang sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.

Oleh karena itu, Monaco juga mengusulkan agenda Blue Economy dalam rencana aksi ICRI, di mana kegiatan sektor industri dan aspek ekonomi dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya alam dengan memperhatikan aspek lingkungan. Sebagaimana konsep blue economy, mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menghasilkan sedikit limbah ke lingkungan, meminimalkan pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan sehingga lebih efisien, dan mengolah limbah menjadi bahan baku. (222)

 

 

BERITA TERKAIT