Ekspedisi Padi Nusantara III Tersebar untuk 18 Provinsi

Kamis, 12 Juli 2018, 08:16 WIB

Padi | Sumber Foto:Pixabay

AGRONET – Belajar dan memberdayakan. Itulah yang dilakukan mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk menerapkan ilmu yang diterimanya di kampus. Dengan mengadakan rangkaian kegiatan Ekspedisi Padi Nusantara Jilid 3, mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB ini akan melakukan pembekalan, turun lapang, dan kajian hasil turun lapang.

Pada kegiatan pembekalan dan pelepasan ini turut hadir Sekretaris Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Ruly Anwar, dan perwakilan dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Kamis (5/7). Kegiatan pembekalan ini bertujuan membekali mahasiswa tentang konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), karena ekspedisi ketiga ini bertema “Evaluasi Penerapan Sistem PHT pada Lahan Pertanian Padi.”

Adapun kegiatan turun lapang, mahasiswa akan menemui petani padi secara langsung. Sebanyak kurang lebih 200 mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman akan terjun ke berbagai daerah dan provinsi di Indonesia. Sedikitnya terdapat 18 provinsi yang akan menjadi lokasi turun lapang Ekspedisi Padi Nusantara Jilid 3.

Dari 18 provinsi tersebut setidaknya terdapat beberapa diantaranya produsen utama padi, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kegiatan turun lapang akan berlangsung kurang lebih dua bulan yakni bulan Juli dan Agustus. Masing-masing mahasiswa yang mengikuti turun lapang ini akan melakukan survei kepada petani terkait penerapan PHT pada pertanaman padi. Tidak hanya itu, mahasiswa juga diminta untuk membantu memecahkan permasalahan petani sesuai kemampuan masing-masing. Hasil turun lapang ini akan menjadi sumber data yang akan digunakan pada kajian evaluasi penerapan konsep PHT nanti.

Pada ekspedisi ini dipilih komoditas padi karena tanaman padi menjadi komoditas utama yang ditanam oleh petani. Tidak hanya itu, tanaman padi dipilih karena merupakan komoditas pertanian yang lebih umum ditanam oleh petani sehingga mudah ditemukan. Di sisi lain, petani padi juga mendapat pengembangan sumberdaya manusia dari pemerintah, sehingga perlu diukur apakah program tersebut membekas atau tidak, terutama kaitannya dengan konsep PHT pada tanaman padi.

Adapun evaluasi konsep PHT dilakukan karena pada dasarnya konsep PHT sudah diterbitkan peraturan perundang-undangan sejak tahun 1985, namun saat ini konsep PHT tersebut seperti hilang dari petani terutama petani padi. Apabila konsep diterapkan, terdapat keuntungan yang sangat berguna bagi petani, konsumen, dan ekosistem alam. Secara umum penerapan konsep PHT dapat melindungi konsumen dari residu pestisida yang berlebihan, menguntungkan secara ekonomi, dan ramah lingkungan.

Komisi Kemahasiswaan dan Disiplin, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB sekaligus pakar Klinik Tanaman, Bonjok Istiaji mengatakan, melalui kegiatan ekspedisi padi ini mahasiswa dapat belajar langsung pada praktisi pertanian, yakni petani. Tidak hanya itu, mahasiswa juga dapat berkontribusi nyata bagi petani dan bisa menjadi teman baik bagi petani selama liburan nanti. “Harapannya mahasiswa tidak terkungkung dengan aktivitas perkuliahan saja, melainkan dapat menumbuhkan rasa empati yang lebih kepada petani,” imbuhnya. (IPB/222)

BERITA TERKAIT