Air Kelapa Mampu Percepat Pertumbuhan Bawang Merah

Rabu, 08 Agustus 2018, 10:26 WIB

Bawang merah | Sumber Foto:BPTP Balitbangtan Jawa Timur

AGRONET—Setelah diteliti oleh BPTP Balitbangtan (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) Jawa Timur, air kelapa ternyata memiliki khasiat mempercepat pertumbuhan bawang merah.

BPTP Balitbangtan Jawa Timur berharap formula yang komponen utamanya adalah air kelapa tersebut mampu menjadi solusi permasalahan true shallot seed (TSS), yaitu daya tumbuh dan pecah umbinya kurang atau tidak optimal.

Formula tersebut telah diimplementasikan mulai tahun 2018 ini pada budidaya bawang merah asal TSS pada skala luas dengan kisaran 1,25 ha dan didukung dengan penerapan teknologi Produksi Lipat Ganda (PROLIGA)
Dalam rangka sosialisasi inovasi tersebut, telah digelar temu lapang di Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Temu lapang dihadiri oleh petani, penyuluh lapang (PPL), peneliti sejumlah 57 orang. Hadir pula Kepala BPP Pare dan jajarannya, Arahayu Setyo Adi (Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tananan, Dipertabun Kabupaten Kediri.

Suyamto selaku ketua Tim Teknis BPTP Balitbangtan Jawa Timur, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa budidaya bawang merah asal TSS merupakan hal baru bagi petani, tetapi ke depan sangat prospektif, selain dapat menghemat biaya input produksi, membuka peluang usaha penangkaran dan jasa penyedia benih.

Setyo Adi menyampaikan terima kasih kepada BPTP Balitbangtan Jawa Timur yang telah menyelenggarakan temu lapang teknologi budidaya bawang merah asal TSS. “Kegiatan semacam ini sangat penting dalam meningkatkan kapasitas SDM petani”, ujar Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman di Dipertabun Kabupaten Kediri ini.

Tri Sudaryono selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan bahwa penggunaan air kelapa muda pada tahap persemaian, dimana daya tumbuh TSS mencapai 90?n dengan implementasi teknologi PROLIGA mampu menghasilkan produksi lebih 40 ton/ha umbi basah dengan rata-rata 4 umbi/tanaman, dibandingkan teknologi petani yang hanya menghasilkan kisaran 20 ton/ha dan rata-rata 2 umbi/tanaman. Pada kesempatan tersebut Prahardini juga mengungkapkan seluk-beluk teknologi memproduksi biji botani (TSS) dan dilanjutkan dengan penyampaian teknologi pengolahan bawang merah sebagai strategi mengatasi bila harga bawang merah anjlok oleh Antarlina.

Temu lapang mendapat respon positif dari petani yang hadir. Hal ini terungkap dari harapan petani agar demplot seperti ini bisa dilakukan di sentra-sentra produksi lainnya, sehingga akan meningkatkan penguasaan teknologi baru oleh petani. Menanggapi hal tersebut, Dinas Pertanian dan Perkebunan akan menindak lanjuti hal tersebut pada musim tanam sekitar bulan Oktober mendatang. (222)

BERITA TERKAIT