TIFF 2018 Ajang Besar Ekspor Florikultura

Kamis, 09 Agustus 2018, 09:33 WIB

Florikultura | Sumber Foto:Pixabay

Agronet—Tomohon Internasional Flover Festival (TIFF) 2018 yang telah resmi menjadi ajang tahunan kembali diselenggarakan pada 8 Agustus 2018. Kegiatan parade bunga di kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang telah diselenggarakan sejak tahun 2008 ini telah tercantum dalam kalender Kementerian Pariwisata. Dan termasuk dalam 100 wonder event Kementerian Pariwisata. Orientasi Pemerintah dalam festival tahunan ini diarahkan untuk menggenjot ekspor.

Kali ini TIFF 2018 diikuti oleh sejumlah negara diantaranya: Malaysia, Vietnam, Korea Utara, India, Rusia, Amerika, Perancis, Belanda, Fhilipina, Hongkong, Thailand, New Zealand, India,Polandia, Jepang, Australia, Tiongkok, Singapura, Sekretariat Nasional ASEAN, dan CAFE ( Council of Asian Flower Exibition). Event ini untuk mendatangkan commercial value dan perdagangan florikultura Dunia.

Menurut data Dinas Pariwisata Kota Tomohon TIFF berdampak besar terhadap peningkatan ekonomi kota Tomohon, hal ini terlihat dari peningkatan jumlah wisatawan 2018 sebesar 590 ribu orang, diperkirakan naik 300 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Jimmy Feidie Eman, Walikota Tomohonan, dalam sambutannya berharap bahwa ajang ini akan dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia pada bidang usaha berbasis produk florikultura dan kreatifitas desain dalam berbagai motif dan rancangan, sekaligus memupuk kecintaan masyarakat terhadap bunga dan tanaman hias sebagai bagian dari budaya masyarakat (flower liking as a lifestyle), serta yang tak kalah penting, adalah menjadikan Kota Tomohon sebagai daerah tujuan wisata, yang semakin dikenal dan terkenal di dunia internasional, sehingga nantinya, akan menyedot kunjungan wisatawan baik mancanegara, nusantara dan lokal yang dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ajang festival florikultura ini sejalan dengan orientasi Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura yang tengah fokus untuk meningkatkan produksi dan ekspor florikultura ke berbagai negara.

“Untuk membidik dollar di tahun 2018 ini semakin nyata, seperti yang diarahkan menteri pertanian, maka kami tingkatkan komoditas ekspor tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan prospektif ke depan. Ini memiliki daya saing tinggi dan sangat menjanjikan di pasar Internasional,” kata Direktur Buah dan Frorikultura, Sarwo Edhy, saat menghadiri event TIFF.

Sarwo mengatakan, Indonesia negara tropis yang memiliki iklim cocok untuk budidaya tanaman hias, dan sudah dikembangkan di pelosok Indonesia.

Berdasarkan catatan Kementan terdapat 173 jenis tanaman hias dengan ribuan jenis varietasnya. Untuk bunga krisan saja ada 130 varietas, dengan produksi 550 juta potong. Harga cukup bagus Rp5.000 per potong, omset sekitar Rp 2,75 triliun, belum termasuk jenis tanaman hias lainnya.

Berbagai tanaman hias diproduksi dan dipasarkan di Tomohon dan daerah lain, serta sebagian diekspor ke berbagai negara. Hal ini terbukti meningkatkan devisa negara sekaligus mendulang dollar.

Suwandi, Dirjen Hortikultura, di tempat terpisah menyatakan, sesuai arahan Mentan, kami meningkatkan volume ekspor melalui kemudahan investasi, pelayanan perizinan, pelayanan perkarantinaan, termasuk juga izin ekspor benih hortikultura.

Kementan menjamin proses izin ekspor benih tanaman hias dilakukan cepat melalui online sepanjang semua persyaratan telah dipenuhi.

“Kami yakin budidaya tanaman hias akan meningkat dan ekspor pun akan meningkat tajam,” pungkasnya. (222)

BERITA TERKAIT