Menteri Amran: Kalau 4.000 Mahasiswa Baru ini Bergerak Bersama, Kita Menguasai Pangan Dunia

Rabu, 15 Agustus 2018, 09:10 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat memberikan kuliah umum untuk mahasiswa baru IPB, Selasa (14/08) | Sumber Foto:Ditjen Hortikultura Kementan RI

AGRONET—Regenerasi sumber daya manusia di bidang pertanian saat ini cukup mengkhawatirkan. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bersama Rektor IPB, Arif Satria bersinergi guna mencetak mahasiswa baru pertanian menghasilkan inovasi baru untuk mempercepat pembangunan pertanian dan mensejahterakan petani.

Pasalnya, yang bisa merubah suatu bangsa adalah pemuda yang mampu menciptakan inovasi sehingga pembangunan karakter mahasiswa baru harus menjadi program prioritas. Hal ini terungkap pada kegiatan Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru 2018 IPB sebanyak 4.000 orang di Kampus IPB, Bogor, Selasa (14/8/2018).

Dalam kuliah umum yang diberikannya, Menteri Amran menekankan mahasiswa baru IPB harus mampu menghasilkan inovasi baru yang dapat memajukan sektor pertanian dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Pasalnya, tantangan pembangunan pertanian ke depan membutuhkam generasi muda unggul yakni melahirkan inovasi.

“Kami melihat Mahasiswa pertanian cerdas-cerdas, kritis, luar bisa bahkan kami harapkan bisa menghasilkan inovasi baru. Kalau 4.000 mahasiswa baru ini bergerak bersama-sama, bisa merubah Indonesia bahkan pangan kita menguasai dunia,” tegas Amran.

Amran membeberkan agar menjadi pengusaha sukses, generasi muda harus masuk pertanian karena 80 persen konglomerat di Indonesia bergerak di sektor pertanian. Karenanya, mahasiswa harus memiliki karakter yang kuat dan cerdas sehingga nanti menjadi pemimpin dan sosok pengusaha bidang pangan yang sukses.

“Dulu tinggal di kos-kosan ukuran 4x6 meter dan tinggal di desa terpencil, 12 bersaudara. Umur 9 tahun saya sudah cari uang, gali batu gunung. Kami lahir dalam keadaan miskin, tapi kami tidak ingin dikuburkan dalam keadaan miskin. Saya kerja keras di bidang pertanian. Dulu saya tahun 1989 pinjam uang Rp 500 ribu dalam waktu 8 tahun menjadi Rp 3 triliun. Kalau kita kerja keras pasti bisa sukses,” bebernya.

Lebih lanjut Amran mengapresiasi atas inovasi-inovasi baru IPB, salah satunya telah menghasilkan varietas baru yakni padi IPB3S, produktivitasnya 13,5 ton per ha, sementara rata-rata nasional hanya 5 hingga 6 ton per ha. Untuk itu, Amran meminta jika ada penemuan baru, agar segera dikirim ke Kementan sehingga diberikan royalti.

“Kementan bantu pengembangan benih IPB3S mencapai Rp 50 miliar. Kami apresiasi kepada Rektor IPB, masih muda, cerdas, visioner dan energik. Kami sama-sama mendorong terciptanya generasi muda pertanian yang inovatif,” ujarnya.

Amran menyebutkan selama 4 tahun, pembangunan sektor pertanian banyak menorehkan capaian. Di antaranya, pertama, ekspor komoditas pertanian melonjak tajam. Berdasarkan data BPS, pada 2017, terjadi peningkatan ekspor sebesar 14,85 % dibandingkan 2016. Nilainya mencapai 623,9 juta dolar AS atau setara dengan Rp 8,5 triliun. Total, ekspor pertanian di 2017 mencapai Rp 441 triliun atau naik 24,47 % dibandingkan 2016 yang sebesar Rp 355 triliun.

“Dulu kita impor jagung 3,6 juta ton setara Rp 10 triliun, tapi sekarang kita sudah ekspor. Ini karena kebijakan tepat. Kami menghadap Bapak Presiden, agar ditetapkan harga dasar jagung sehingga harga jagung saat panen tidak jatuh, petani untung. Petani bisa untung kalau ada teknologi dan harga yang wajar. Teknologi harus dicetak dari IPB,” sebutnya.

Kedua, kontribusi sektor pertanian dalam menyumbang pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada Triwulan II 2018 dibandingkan Triwulan I 2018 sebesar 9,93% (q to q). Kontribusi sektor pertanian ini merupakan yang tertinggi dibanding sektor lainnya seperti jasa perusahaan yang hanya 3,37?n jasa lainya hanya 3,30%.

“Ketiga, penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2018 turun 7,5% dibandingkan Maret 2017. Penurunan ini lebih besar dibandingkan penurunan Maret 2017 dibanding Maret 2016 yang hanya 3,2%,” tuturnya.

Rektor IPB, Arif Satri, mengungkapkan inovasi baru memiliki peran penting dalam pembangunan pertanian. Keterbelakangan bukan karena buta huruf, tetapi karena kita tidak mampu membuat sejarah atau inovasi baru.

“IPB akan membuat mahasiswa untuk membuat sejarah baru. IPB terus berkarya melahirkan inovasi baru untuk mensejahterakan petani,” ucapnya.

“IPB selalu bersanding dan menjalin kerja sama dengan Kementan melahir inovasi baru. Ini langkah kita untuk membuat manfaat bagi mayarakat. Mahasiswa diharapkan agar membuat blue print sejarah baru apa yang akan dihasilkan di kampus IPB,” tandas Arif. (222)