Ikan Mati Massal, KKP: Kita Harus Bijak dengan Alam

Kamis, 13 September 2018, 17:01 WIB

Kepala BRSDM KKP, Sjarief Widjaja | Sumber Foto:Hamdan Zalik

AGRONET -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menilai peristiwa kematian ikan secara massal dalam keramba jaring apung (KJA) di danau atau waduk disebabkan berbagai faktor. Untuk itu perlu solusi dan kebijakan yang tepat agar tidak terulang.

Kepala Badan Riset Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja, menjelaskan partikel yang masuk ke dalam danau dengan berbagai zat dan jumlah tertentu, ditambah terjadinya perubahan cuaca ekstrim akan menyebabkan kematian ikan dalam keramba jaring apung (KJA). Menurut dia kematian ikan secara massal akan merugikan pembudi daya ikan, pengusaha, dan masyarakat secara luas.

“Air danau tidak mengalir seperti air sungai, bersumber antara lain dari hujan, hulu sungai, persawahan, buangan limbah rumah tangga, dan industri. Berbagai sumber air tersebut membawa bermacam-macam zat dan partikel yang dapat mengubah kualitas air danau. Dalam waktu lama sisa-sisa partikel juga akan membuat danau menjadi dangkal,” ujar Sjarief di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Kamis (13/9).

Sjarief menambahkan kematian ikan juga disebabkan oleh pemanfaatan air danau secara berlebihan. Luas danau dan kapasitas air tidak sesuai dengan jumlah ikan sehingga air tidak mampu lagi menyediakan oksigen.

"BRSDM merekomendasikan perlu aturan tegas agar jumlah dan penempatan keramba jaring apung (KJA) dan tebaran ikan harus sesuai dengan volume air danau. Kita harus menyesuaikan dan bijak dengan kondisi yang ada, alam ini butuh istirahat dan jangan kita ekploitasi berlebihan,” ujarnya.

Ia mengharapkan agar pembudi daya ikan juga mengikuti sirkulasi waktu yang sudah disusun berdasarkan kajian BRSDM. Menurutnya pada bulan Agustus atau September masyarakat harus segera memanen ikan, karena cuaca pada bulan tersebut berpotensi akan menyebabkan kematian ikan. Rincian kajian tersebut menurutnya akan segera disosialisasikan.

Sebagian masyarakat kita menggantungkan hidupnya dari budi daya perikanan di danau. Untuk itu Sjarief  mengakui bukan hal yang mudah untuk menerapkan aturan terkait pengurangan keramba jaring apung (KJA). “Tentu kami memberi solusi berupa pemberdayaan masyarakat yang terkena dampak pengurangan keramba jaring apung, seperti memanfaatkan daun eceng gondok sebagai bahan pakan ikan dan akarnya untuk kerajinan,” ujarnya.

Dari catatan KKP menerangkan fenomena kematian ikan massal pada tahun 2018 terjadi di Danau Toba, Sumatera Utara, yang mencapai 200 ton, diperkirakan pembudi daya ikan merugi mencapai Rp2,6 miliar. Pada tahun 1996 kematian ikan massal juga pernah terjadi di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat, yang merugikan hingga Rp3 miliar. (591)