Faisal Basri: Kebijakan Impor Kebablasan

Minggu, 23 September 2018, 15:49 WIB

Gudang beras di Pasar Induk Cipinang | Sumber Foto:Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET--Polemik impor yang panas belakangan ini, membuat ekonom senior, Faisal Basri, turut bersuara. Berdasarkan rilis yang diterima dari Kementan, Faisal mengkritik Kementerian Perdagangan. Menurutnya kebijakan impor telah kebablasan. "Jadi seperti air bah sekarang (impornya)," kata Faisal di Jakarta beberapa waktu lalu.

Faisal menyebutkan pola impor seperti itu merugikan neraca perdagangan kita. Dan neraca perdagangan berpengaruh pada neraca pembayaran yang pada akhirnya mempengaruhi nilai tukar rupiah.

Dirinya menilai maraknya impor dari berbagai negara ke Indonesia utamanya disebabkan kebijakan yang dibuat oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. “Sebelum batasi (komoditas impor), tertibkan dulu kelakuan Pak Enggar, yang tadinya ada rekomendasi, sekarang enggak ada rekomendasi menko perekonomian,” kritik Faisal.

Belakangan ini, Kemendag sedang menjadi sorotan terkait derasnya impor, terutama komoditas beras. sejumlah pihak juga telah menyuarakan protes terhadap langkah kementerian yang dipimpin Enggartiasto Lukita tersebut dalam menambah stok beras dalam negeri.

Bulog menjadi salah satu pihak yang bersuara keras terhadap kebijakan Kemendag itu. Direktur Utama Bulog, Budi Waseso, menegaskan stok beras dalam negeri aman. Mengacu data Perum Bulog, jumlah Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per 18 September 2018 mencapai 2,24 juta ton, jauh diatas batas aman stok CBP sekitar 1-1,5 juta ton.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman enggan berkomentar setiap ditanyai responnya terhadap kebijakan impor beras yang dikeluarkan Kemendag. Tapi berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, yaitu dari Angka Ramalan (Aram) I 2018, perkiraan luas panen padi Januari - Agustus mencapai 12,18 juta hektare dan prediksi luas panen September - Desember mencapai 3,82 juta hektare

Sebelumnya Amran memang sempat menyampaikan optimismenya bahwa produksi beras tetap terjaga meski sedang musim kemarau. Amran mengakui, publik mungkin masih terjebak paradigma lama bahwa selama ini jika musim kering atau musim kemarau tidak ada produksi karena petani tidak menanam padi.

"Sekarang ada paradigma baru. Dengan menggunakan teknologi baru kita meningkatkan tanam di musim kering yang biasanya 500 ribu hektare menjadi 1 juta hektare, naik dua kali lipat pada saat musim kering. Saya ulangi, tanaman naik dua kali lipat pada musim kering, karena itu target kita," ujar Amran. (222)