Kementan Sediakan 1.000 Pengering Jagung untuk Pascapanen

Sabtu, 29 September 2018, 06:56 WIB

Jagung

AGRONET--Harga jagung pada bulan September sekitar Rp3.691 per kg. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP), Gatut Sumbogodjati. Bahkan bahkan 3 bulan yang lalu harga jagung sempat turun di Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara hingga Rp2.887.

Bambang meyakini bahwa harga jagung yang dinilai meningkat di akhir-akhir ini dinilai bukan karena kekurangan stok. Karena dari harga di tingkat petani tersebut, ditambahkan dengan biaya processing dan penyusutan bobot akibat pengeringan sebesar 15 persen maka harga jagung di pengguna akhir tidak lebih dari Rp 4.250 per kg. Hal ini menunjukkan disparitas harga di petani dan di industri yang menjadi indikasi diperlukannya pembenahan rantai pasok jagung.

“Persoalan jagung bukan hanya masalah produksi. Kenapa pada saat harga tinggi banyak yang komplain masalah produksi. Padahal jelas-jelas data menunjukkan produksi kita surplus. Jadi yang harus kita garis bawahi adalah persoalan konektivitas sentra produksi ke pengguna jagung yang memusat di beberapa provinsi saja”, tambah Bambang.

Untuk mengatasi hal tersebut, Kementan berinisiatif menyediakan 1.000 alat pengering (dryer) untuk pengolahan pascapanen, agar jagung bisa disimpan dan ditransportasikan dengan baik sehingga bisa meminimalisir terjadinya disparitas harga. Di Indonesia kapasitas pengeringan industri pakan masih rendah karena sebagian masih belum memiliki dryer atau ruang penyimpanan yang cukup besar.

Bambang mengapresiasi pengusaha yang saat ini bergerak di segmen tengah yang menghubungkan petani produsen dengan end user. Ada sejumlah perusahaan seperti PT. Seger Agro Nusantara, PT. Harim, PT. Bumi Universal yang menjadi simpul utama dalam supply chain atau rantai pasok jagung. Pemerintah berharap akan banyak lagi pengusaha yang bergerak di segmen tengah ini karena sangat menolong dalam memproses dan mengalirkan jagung dari petani hingga pengguna akhir karena mampu meningkatkan daya serap jagung dari petani.

"Ke depan kita berharap pengguna jagung seperti industri pakan berinvestasi untuk meningkatkan kapasitas dryer dan storagenya dua sampai tiga kali dari kapasitas yang terpasang sekarang. Sehingga industry pakan bisa menyimpan jagung hingga untuk kebutuhan 6 bulan. Dengan cara demikian selain diperoleh jaminan suplai juga bisa dicapai stabilisasi harga antara off season dan peak season," beber Bambang.

Kementerian Pertanian akan senantiasa membantu industri pakan atau pengguna lainnya yang kesulitan mencari jagung. Pengguna yang kesulitan mendapatkan jagung dapat langsung berkomunikasi dengan Direktorat Serealia Kementan. Dalam jangka panjang, Kementan menyatakan siap mendampingi terbentuknya kemitraan business to business antara industri pakan dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sehingga industri mendapat jagung sesuai spesifikasi yang diinginkan dan pasokan jagungnya terjamin. (222)