Gempa dan Tsunami di Sulteng Rusak 9.718 Ha Lahan Pertanian

Selasa, 09 Oktober 2018, 13:49 WIB

Kerusakan akibat tsunami di Sulteng. | Sumber Foto:Istimewa

AGRONET—Gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah juga merusak lahan pertanian. Sekitar 9.718 hektare [ha] lahan pertanian di Palu, Donggala, Sigi, dan wilayah sekitarnya rusak berat akibat gempa dan tsunami pada akhir September lalu.

Menurut Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam keterangan tertulis kemarin [8/10], wilayah yang kerusakan lahan pertaniannya paling luas adalah di Sigi sekitar 7.909 ha. Kemudian diikuti Donggala seluas 1.653 ha dan Palu sekira 156 ha.

“Total potensi kerugian akibat rusaknya lahan pertanian itu mencapai Rp36 miliar,” ungkapnya. Rincian lengkap potensi kerugian itu, yakni di Sigi sekitar Rp21,97 miliar. Berikutnya Donggala mencapai Rp14,35 miliar. Lalu di Palu mencapai Rp179,775 juta.

Tentu saja pemulihan kondisi lahan pertanian yang rusak itu tak bisa segera dilakukan. Selain akses menuju lokasi tersebut yang masih menngalami kendala juga karena fokus penanganan gempa dan tsunami yang lebih mendahulukan korban manusia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Gatoto Irianto, mengutarakan Kementerian Pertanian masih terus melakukan pendataan menyeluruh. Dia belum bisa  menjelaskan langkah berikutnya untuk segera memulihkan kondisi pertanian di tiga wilayah Sulteng tersebut.

“Kami akan melakukan penelitian secara detail tentang kondisi lahan yang rusak di Sulteng. Bisa jadi ada yang lahannya tidak rusak akan tetapi akses jalan menuju ke lokasi sudah terputus. Data detail dan rinci seperti itu yang sekarang sedang kami kumpulkan,” paparnya.  

Saat ini Kementan telah mendirikan sebanyak 40 posko.  Lokasi posko terutama berada di wilayah Sigi, Donggala, dan Palu. Selain untuk membantu pemulihan sektor pertanian, posko juga ikut membantu penanganan bidang lain. [442]

BERITA TERKAIT