Varietas Unggul Padi Rawa Ditanam di Lokasi Hari Pangan Sedunia

Rabu, 10 Oktober 2018, 13:59 WIB

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Dr. Priatna Sasmita didampingi Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Dr. M. Yasin berada di lokasi HPS sekaligus untuk memastikan kondisi pertanaman. | Sumber Foto:BB Penelitian Tanaman padi Kementan

AGRONET— Kementerian Pertanian (Kementan) telah merilis berbagai varietas padi unggul baru adaptif untuk ekosistem rawa yang dikenal dengan nama inpara (inbrida padi rawa). Varietas tersebut juga memiliki potensi hasil tinggi, mencapai lebih dari 6 ton/hektare.

Untuk persiapan Hari Pangan Sedunia [HPS] 2018 yang akan dilaksanakan di Kuala Barito, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan, Kementan juga telah melakukan demonstrasi farming (demfarm) padi rawa dengan menggunakan varietas padi inpara di lahan seluas 60 hektare. Demfarm ini sekaligus merupakan gelar inovasi teknologi lahan rawa yang dipersiapkan untuk kegiatan HPS 2018.

Ada empat varietas padi rawa yang ditanam di lokasi HPS, yakni inpara 2, inpara 3, ipara 8, dan inpara 9. Saat ini penanaman padi memasuki umur 90-95 HSS [hari setelah sebar] fase berbunga. Hingga fase generatif ini bentuk satu sama lainnya berbeda. Hal ini untuk menunjukkan respon atau kemampuan adaptasi yang berbeda di antara varietas yang ditanam.

“Varietas unggul yang ditanam saat ini merupakan salah satu teknologi andalan utama untuk menjawab tantangan optimalisasi produksi padi di lahan rawa", kata Priatna Sasmita, kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Kementan, di sela-sela meninjau persiapan gelaran HPS 2018.

"Kendala fisik utama di lahan rawa ini selain fluktuasi ketersediaan air, juga kondisi PH rendah (lahan masam), kandungan Fe, sulfat dan Al tinggi yang menjadi toksin terhadap pertumbuhan tanaman padi. Oleh karena itu, bila lahan ini tidak dikelola secara intensif, pertumbuhan tanaman padi tidak bisa optimal dan bahkan mati keracunan", tambahnya.

Priatna berharap varietas padi rawa terbaik di lokasi HPS ini dapat dikembangkan lebih lanjut oleh petani di Batola dan sekitarnya. Karena apabila dibandingkan dengan padi lokal yang saat ini digunakan oleh petani Batola produktivitasnya bisa meningkat hingga 300 persen. Padi lokal yang digunakan petani Batola saat ini produktivitasnya hanya mencapai 1-2 ton GKP/hektare. (222) 

BERITA TERKAIT

Komunitas