Benarkah Ikan dalam Pendingin Tak Bergizi?

Jumat, 12 Oktober 2018, 10:23 WIB

Pedagang menjual ikan di pasar tradisional. | Sumber Foto: KKP

AGRONET -- Cara penyimpanan ikan sangat berpengaruh terhadap kualitas, baik dari segi kandungan gizi maupun rasa. Bukan tak mungkin ikan yang kita beli sudah tidak layak konsumsi.

Ketua Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), Hasanudin Yasni, menjelaskan ikan olahan yang disimpan dalam suhu 13-17 derajat celcius berpotensi tercemar mikroba sebanyak 400-460 CFU/G. Sementara pada suhu kamar 27-30 derajat celcius, mikroba berkoloni hingga 1400-1700 CFU/G (colony forming unit per gram). 

“Suhu dingin itu menonaktifkan pertumbuhan mikroba. Penyimpanan ikan pada suhu normal tidak diperkenankan sama sekali,” ujarnya dalam kegiatan peluncuran jejaring I-PLAN di Jakarta, Kamis (11/10).

Direktur Pemasaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Machmud, menambahkan ketika membeli ikan sebaiknya dimasukkan ke dalam kemasan yang disertai es batu. Hal ini untuk menjaga ikan tetap dalam suhu tertentu yang dapat mencegah perkembangbiakan mikroba.

Menunurutnya, mulai dari setelah ditangkap sampai ke daratan ikan harus disimpan dalam kotak es. “Di pasar atau supermarket juga harus pakai es. Kalau kita beli hingga sampai ke rumah juga harus pakai es," tambahnya.

Mahcmud mengimbau sebelum disimpan dalam lemari berpendingin, ikan dibersihkan terlebih dahulu. Ikan sebaiknya segera dimasukkan ke dalam lemari es yang bersuhu 14-18 derajat celcius. Dengan penyimpanan seperti ini ikan akan bertahan hingga enam bulan.

"Kalau sudah dikeluarkan dari lemari es, jangan dimasukkan lagi, karena perbedaan suhu mendorong pertumbuhan mikroba menjadi banyak. Jadi, cukup dikeluarkan sesuai kebutuhan," ujarnya. (591)