Ikan dari Maninjau Rugikan Petani Lokal

Jumat, 12 Oktober 2018, 13:27 WIB

Ikan mati mendadak di danau Maninjau Sumbar. | Sumber Foto: isw

AGRONET -- Petani di Kuansing, Riau meradang karena harga jual ikan nila di pasar jatuh hingga Rp18 ribu per kilogram. Kondisi itu makin diperparah karena masuknya ikan dari Maninjau, Sumatera Barat.

Ketua koperasi mitra insan teladan (Komit), Nerdi Wantomes, kemarin (8/10) menjelaskan idealnya harga ikan di atas Rp20 ribu. "Kalau harga lebih dari Rp20 ribu baru seimbang karena harga pakan saja sudah mencapai 290 ribu perkarung,"ujarnya.

Harga ikan nila Kuansing harus bersaing dengan nila dari Maninjau. Harga ikan Maninjau sekitar Rp16 ribu per kilogram. "Ikan dari Sumbar dapat lebih murah karena dipelihara dalam keramba sehingga biaya panen lebih murah, ikan tinggal diangkat,” ujarnya.

Memelihara ikan nila dalam kerambah, katanya, juga menurunkan angka kematian. Ikan dari keramba langsung dimasukkan dalam kantong plastik berisi oksigen dan dibawa ke pasar.

"Daya tahan ikan dalam kantong plastik 8 jam. Karean itulah ikan Maninjau bisa segar saat sampai di pasar,"katanya.

Berbeda di Kuansing, ikan berasal dari kolam sehingga perlu waktu, tenaga, dan biaya tambahan untuk mengeringkan kolam. Saat panen ikan juga banyak mati, baik saat ditangkap maupun saat dimasukan ke dalam ember.

"Ikan yang mati mengurangi keuntungan petani. Karena biaya produksi yang tinggi harga jual ikan tidak bersaing,” ujarnya.

Danau Maninjau memang dikenal sebagai penghasil ikan nila dan dapat memenuhi kebutuhan daerah sekitarnya, hingga sampai ke Riau dan Jambi. Produksi meningkat, tahun 2013 sebesar 54.274 ton, tahun 2014 sebanyak 62.038 ton, tahun 2015 naik 85.462 ton.

Tahun 2016 terjadi penurunan karena danau Maninjau tercemar. Produksi ikan hanya mencapai 55.113 ton, dan tahun 2017 turun 50.480 ton.(591)

BERITA TERKAIT