Kementan Tegaskan Produksi Jagung Nasional Surplus

Sabtu, 03 November 2018, 17:58 WIB

Sekjen Kementan, Syukur Iwantoro, memberikan keterangan pers terkait rencana impor jagung di kantornya Gedung A Kementan, Jl RM Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (3/11). | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Sekretaris Jenderal Kementerain Pertanian (Kementan), Syukur Iwantoro, menegaskan produksi jagung nasional 2018 surplus, dan bahkan telah melakukan ekspor ke Filipina dan Malaysia. Hal tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa harga pakan ternak yang naik belakangan ini diakibatkan oleh melesetnya data produksi.

“Kelebihan produksi tersebut diperoleh setelah menghitung perkiraan produksi 2018. Kemudian, perkiraan produksi itu dikurangi dengan proyeksi kebutuhan jagung nasional," kata Syukur di kantornya, Gedung A Kementan, Jl. RM Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (3/11).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, pada 2 November 2018 usai rapat koordinasi (rakor) terbatas di Kemenko Perekonomian, Jakarta menyampaikan bahwa telah memerintahkan Kementan untuk mengeluarkan rekomendasi impor jagung pakan ternak sebanyak 100.000 ton. Pengadaannya ditugaskan kepada Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) untuk melakukan impor. Menurut Menko, impor jagung dilakukan untuk menjaga kebutuhan para peternak mandiri.

Syukur menjelaskan berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen per tahun.  Tahun 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Hal ini juga didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06 persen, dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen sesuai dengan data dari BPS tahun 2018.

Prakiraan ketersediaan produksi jagung bulan november sebesar 1,51 juta ton, dengan luas panen 282.381 hektare (ha), bulan desember 1,53 juta ton, dengan luas panen 285.993 ha. Produksi itu tersebar di sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontolo, Lampung, dan provinsi lainnya.

Dari sisi kebutuhan, kata Syukur, berdasarkan data dari BKP Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15, 5 juta ton PK. Rinciannya terdiri dari pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan industri pangan 4,76 juta ton PK. "Artinya Indonesia masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK," ujarnya.

Syukur memastikan, secara umum produksi jagung nasional saat ini sangat baik.  Sentra produksi jagung tersebar di 10 provinsi yakni, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, dan Sulawesi Utara. Total produksi sudah mencapai 24,24 juta ton PK.  Dapat diartikan 83,8 persen produksi jagung berada di provinsi sentra tersebut berjalan dengan baik. (591)

BERITA TERKAIT