Amran Sulaiman: Indonesia Setop Impor Jagung 3,6 Juta Ton

Selasa, 06 November 2018, 15:43 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memberikan keterangan pers di kantornya, Gedung Kementan, Jakarta. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan upaya pemerintah dalam menggenjot produksi jagung menuai hasil yang memuaskan. Terbukti, produksi jagung hingga saat ini surplus 330 ribu ton dan pemerintah berhasil menyetop impor 3,6 juta ton yang nilainya mencapai Rp10 triliun.

“Kita dulu impor 3,6 juta dengan nilai Rp10 triliun. Sekarang juga pemerintah putuskan impor 50 ribu ton. Tapi kita sudah ekspor, minggu lalu 370 ribu ton, dan sekarang menjadi 380 ribu ton. Hebat kan, dari impor ke ekspor. Point pentingnya adalah ekspor dikurangi impor, yaitu 380 ribu ton dikurangi 50 ribu ton kan 330 ribu ton, artinya surplus,” tegas Amran usai memimpin rapat pimpinan dengan jajaran pejabat lingkup Kementan di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (6/11).

Amran menjelaskan kebijakan impor jagung yang dilakukan pemerintah saat ini sebesar 50 ribu ton atau maksimal 100 ribu ton bertujuan untuk melindungi peternak kecil. Pasalnya, perusahaan-perusahaan besar tidak mengimpor gandum untuk pakan yang biasa dicampurkan. Dengan demikian, pemerintah pengeluarkan jatah pasokan jagung untuk perusahaan besar sebanyak 200 ribu ton. Dengan kata lain, stok jagung dalam negeri lebih banyak diserap oleh perusahaan besar.

“Akhirnya peternak kecil berteriak, tapi perusahaan besar kan diam. Ini diserap masuk tapi tidak beli feedmill (pabrik pakan). Peternak kecilnya berteriak karena tidak pakai gandum. Itu yang tidak dipahami, kenapa perlu impor adalah untuk melindungi peternak kecil,” terangnya.

Lebih lanjut Amran menegaskan impor jagung yang dilakukan pemerintah pun hanyalah sebagai buffer stock, yakni sebagai alat kontrol saja. Jagung impor hanya digunakan jika harga pakan mengalami kenaikan tajam. Jika harga turun, pemerintah tidak akan mengeluarkan jagung impor tersebut ke pasar.

“Ini baru mau impor  50 ribu ton oleh Bulog, itu pun pemerintah yang impor, bukan dilepas. Kalau harga turun, tidak mungkin dikeluarkan, tidak boleh. Jadi impor sebagai alat kontrol saja. Saya tanya prestasi tidak pemerintah? ini saya tanya. Cuma ada yang saya sedihkan, pemerintah impor lagi. Pembahasannya yang dibawa itu saja, impor 100 ribu ton terus digoreng. Jadi pembahasannya tidak berimbang,” tegasnya.

Kenapa Bulog Tidak Mengambil Jagung dari Dalam Negeri? 

Amran menerangkan pemerintah dalam hal ini Kementan sangat berharap agar Bulog dapat menyerap stok jagung dalam negeri. Namun demikian, sejak awal stok jagung dalam negeri sudah dikuasai perusahaan besar, yakni melalui sistem ijon atau dibayar duluan.

“Saya berharap seperti itu, terserah, Bulog boleh juga. Tapi intinya jangan biarkan peternak kecil berteriak. Jadi sederhana jawabanya. Anda boleh mengatakan ini rencana, tapi sudah ekspor. Ekspor dikurangi impor, yaitu 380 ribu ton dikurangi 50 ribu ton kan 330 ribu ton, artinya surplus,” terangnya.

Terkait rapat pimpinan kali ini, Amran menyebutkan rapat tersebut untuk membahas secara fokus pengelolaan lahan rawa untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif. Tahun ini Kementan telah berhasil mengembangkan lahan rawa menjadi lahan pertanian mencapai 50 ribu hektare, dan target ke depan akan terus dilakukan penambahan.

“Kita fokus, arahan Pak Menko, ternyata pada hari pangan sedunia kemarin kita dianggap berhasil pengelolaan rawa menjadi lahan sawah produktif. Lahan rawa fokus kita garap yang dulunya lahan tidur. Kita bangunkan rawa dan petani tidur. Lahan rawa ini di luar lahan gambut, kerja samanya dengan petani langsung,” tandasnya. (591)