Inovasi Pangan Lokal untuk Kemandirian Nasional

Rabu, 07 November 2018, 16:02 WIB

Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Pangan Lokal Fiesta di Kampus Penelitian Pertanian, Bogor pada Rabu (7/11). | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Guna meningkatkan minat dan kecintaan terhadap pangan lokal, Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar kegiatan Pangan Lokal Fiesta di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Kampus Pertanian Cimanggu, Bogor, Rabu (7/11). Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang diwakili oleh Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), Muhammad Syakir, dalam sambutannya mengharapkan bisa mendorong penganekaragaman pangan lokal sekaligus meningkatkan kemandirian dan ketahanan pangan nasional.

Tak ingin sekedar seremoni, Kementan mendorong kegiatan tersebut menjadi ajang peluncuran model agroindustri pangan lokal sekaligus menyebarluaskan inovasi Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) dalam pengembangan pangan lokal. "Inovasi teknologi yang sudah dikembangkan untuk mengangkat pangan lokal dapat dikenal lebih luas, serta membuka pintu gerbang komersialisasi produk pangan lokal untuk dapat segera dihilirisasi oleh pihak swasta dan daerah potensial," kata Syakir. 

Salah satu inovasi yang didorong pada Pangan Lokal Fiesta kali ini adalah penerapan inovasi untuk mengangkat pangan lokal potensial agar mampu menjadi alternatif pengganti terigu. Hal ini penting mengingat ketergantungan masyarakat terhadap terigu semakin meningkat dari tahun ke tahun. Baku terigu yang selama ini digunakan adalah gandum yang bukan bahan baku lokal dan tidak dikembangkan di Indonesia. 

Kenaikan konsumsi terigu dalam 10 tahun terakhir dari 15,5 kg/kapita/tahun pada tahun 2008 menjadi 25 kg/kapita/tahun pada tahun 2018, atau meningkat 1 kg/kapita setiap tahunnya. "Tanpa inovasi mengembangkan pangan lokal untuk mengganti terigu tentu akan membuat beban devisa negara semakin meningkat karena bahan bakunya harus impor. Pengembangan agroindustri dengan bahan baku pangan lokal menjadi ujung tombak peningkatan nilai tambah proses dan produk," terang Syakir.

Dia menjelaskan bahwa berbagai teknologi pengolahan dengan memanfaatkan pangan lokal sebagai bahan baku pangan pokok atau kudapan kini sudah banyak dihasilkan. Beberapa teknologi tersebut di antaranya modifikasi tepung atau pati, baik secara fisik, kimia, maupun biologis. Inovasi teknologi dengan penggunaan adaptif formulasi produk mampu menghasilkan tingkat substitusi terigu di antaranya, yaitu roti 10-20 persen, mie 10-30 persen, cake 50-100 persen, serta kue kering, dan cookies 100 persen.

Selain launching model agroindustri pangan lokal, acara tersebut juga menghadirkan promosi makan mie nusantara bagi 1000 anak sekolah dan 400 tamu undangan. Mie nusantara tersebut terbuat dari sagu, hanjeli, sorghum, jagung, dan ubi kayu yang disajikan menjadi hidangan favorit yakni bakso. 

Agenda lainnya adalah talkshow dengan tema "Industrialisasi Sumber Karbohidrat Lokal untuk Substitusi Beras dan Terigu" dengan menghadirkan pembicara dari Komisi IV DPR RI, Kepala Balitbangtan sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), wakil bupati Maluku Tengah, serta beberapa pelaku industri pangan lokal, antara lain PT. Maxindo Karya Anugerah, PT. Sampoerna Agro Tbk, dan CV. Agro Nirmala Sejahtera.

Pada acara tersebut juga akan dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Balitbangtan dengan sejumlah pihak, seperti pemerintah daerah, asosiasi pesantren, serta pihak swasta. Tujuannya untuk program penganekaragaman pangan lokal dan penerapan inovasi teknologi yang telah dikembangkan. Kegiatan ini juga paralel dengan pembukaan seminar nasional dan rapat kerja nasional Peragi serta Agro Inovation Fair on the Spot. (591)