Indonesia Pimpin Aksi Penanggulangan Zoonosis Global

Rabu, 07 November 2018, 16:23 WIB

Dari sebelah kiri, Marc McGovern (Kedutaan Besar Amerika), Lulu Agustina (Kasubdit Keamanan Hayati, KLHK), Anung Sugihantono ( Dirjen P2P Kemenkes), Naalih Kelsum (Asisten Deputi Pencegahan Penyakit), Fadjar Sumping Tjatur Rasa (Direktur Keswan Kementan). | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Pemerintah Indonesia menegaskan komit untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit zoonosis atau penyakit hewan yang menular terhadap manusia. Hal tersebut dibuktikan dengan Indonesia menjadi tuan rumah dan memimpin pertemuan pencegahan dan pengendalian zoonosis yang merupakan salah satu rangkaian acara Global Health Security Agenda (GHSA) Ministerial Meeting yang diselenggarakan pada tanggal 5-8 November di Nusa Dua, Bali.

Sebanyak 15 negara yang tergabung dalam Zoonotic Diseases Action Package (ZDAP) hadir membahas pencapaian dan rencana aksi implementasi 2014-2019. Rencana ini menjadi salah satu hal penting yang dicapai oleh kepemimpinan Indonesia dalam forum internasional pengendalian penyakit zoonosis. Dalam rencana aksi beberapa hal penting disetujui bersama, termasuk dukungan masing-masing negara anggota ZDAP untuk melanjutkan penanganan penyakit zoonosis, pertukaran informasi, peningkatan kapasitas, serta komitmen jangka panjang penanganan tanggap darurat.

Pada pertemuan tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, Sigit Priohutomo, mengatakan banyak upaya yang telah dilakukan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas sumber daya di bidang kesehatan terpadu dalam menanggulangi ancaman kesehatan global, khususnya zoonosis. Salah satunya dengan menginisiasi kerja sama lintas sektor. “Tiga kunci keberhasilan pengurangan risiko pandemi adalah koordinasi, advokasi, dan kolaborasi antar stakeholder (pemangku kepentingan) terkait,” ujarnya.

Sigit menyampaikan, kerja sama lintas sektor diwujudkan melalui kerja sama program Emerging-Pandemic Threats (EPT-2) dengan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). Kerja sama ini melibatkan kementerian pertanian, kesehatan, lingkungan hidup dan kehutanan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah, serta organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Organisasi Pangan Dunia (FAO).

Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, mengatakan Indonesia telah mempunyai sistem kewaspadaan dini dan respons yang terintegrasi untuk mengatasi ancaman pandemi (penyakit yang menyebarluas) pada manusia. “Salah satu keberhasilan dalam pengendalian zoonosis ialah dengan menurunnya angka kasus flu burung pada manusia, sejalan dengan menurunnya kasus pada hewan melalui kerja sama antara petugas lapangan dari sektor kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan,” ungkapnya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, menegaskan bahwa kesehatan hewan sangat berperan penting terhadap terciptanya kesehatan global, terlebih karena hewan adalah salah satu sumber pangan. Oleh karena itu, upaya pengendalian zoonosis merupakan prioritas utama dalam kesehatan hewan karena dapat meminimalisir ancaman pada kesehatan masyarakat dan meningkatkan ekonomi industri peternakan.  Ia berpendapat perlu adanya peningkatan kapasitas sumber daya kesehatan hewan dalam deteksi, pencegahan, dan respon terhadap penyakit hewan, terutama zoonosis.

Selain itu, pencapaian yang tak kalah penting terkait penanggulangan zoonosis yang bersumber dari satwa liar disampaikan oleh Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pihaknya berkomitmen menanggulangi zoonosis dengan membentuk gugus tugas “one health” yang anggotanya terdiri dari lintas sektor untuk pengendalian zoonosis bersumber satwa liar. “Pembangunan Sistem Informasi Pelaporan Kesehatan Satwa Liar (SEHATSATLI) merupakan salah satu upaya deteksi dini penyakit pada satwa liar yang berpotensi menular pada hewan domestik dan manusia,” jelasnya.

Di tengah keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan ancaman pandemi, Sigit mengingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan oleh lintas sektor untuk mencegah pandemi di masa depan. Mengingat sumber daya alam Indonesia termasuk keanekaragaman hayati yang ada dan corak sosial ekonomi masyarakat, maka Indonesia tetap menempatkan pencegahan zoonosis dan penyakit infeksi baru (PIB) sebagai prioritas upaya pengendalian.

Mark McGovern, Konsulat Jenderal Amerika Serikat, mengapresiasi Indonesia yang telah berhasil mengembangkan integrasi dan koordinasi lintas sektoral untuk mendeteksi, mencegah, dan menanggulangi ancaman pandemi. Ia menegaskan diperlukan komitmen lebih lanjut guna memastikan sistem yang telah ada dapat terus berjalan dengan baik. ”Pemerintah Amerika Serikat sebagai negara sahabat siap mendukung Indonesia untuk terus meningkatkan kapasitas dalam mencegah dan mengendalikan zoonosis”, pungkasnya.(591)