Produksi Ayam dan Telur Meningkat Tajam

Rabu, 07 November 2018, 17:03 WIB

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), I Ketut Diarmita. | Sumber Foto: Kementerian Pertanian

AGRONET -- Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, mengatakan telur dan daging ayam surplus bahkan sudah ekspor ke berbagai negara. Data statistik peternakan menunjukkan peningkatan tajam pada produksi unggas nasional. Awal tahun 1970 kontribusi daging unggas hanya sebesar 15 persen, tetapi pada tahun 2017 telah mencapai 2.147,21 ribu ton atau 66,34 persen terhadap produksi daging secara keseluruhan.

I Ketut menjelaskan dari total produksi telur secara keseluruhan sebanyak 1.970.853 ton, telur ayam buras mencapai sebanyak 196.138 ton (9,95 persen), sedangkan ayam ras petelur sebanyak 1.428.195 ton (72,47 persen), dan telur itik sebanyak 290.110 ton (14,72 persen). “Produksi telur memiliki kontribusi yang cukup besar," ujarnya, di Hotel Ambhara, Jakarta, Selasa (6/11).

Ditambahkannya, untuk ekspor telur ayam tetas mulai dilakukan sejak tahun 2015 ke Myanmar. Hingga Oktober 2018 jumlah kumulatif yang sudah diekspor sebanyak 11.003.358 butir dengan nilai Rp117,04 miliar. Sedangkan ekspor produk olahan daging ayam mulai dilakukan dari tahun 2016, hingga September 2018 sebanyak 118,81 ton dengan nilai Rp9,5 miliar. Adapun negara tujuan ekspor, antara lain Jepang, Australia, Hongkong, Timor Leste, Qatar, India, Papua Nugini, Saudi Arabia, Singapura, dan Korea Selatan.

Sementara itu, untuk konsumsi ayam dan telur masyarakat Indonesia dinilai cukup rendah. Berdasarkan perhitungan data konsumsi antara BPS, Kementan, dan Kemenko Perekonomian ditetapkan bahwa tingkat konsumsi penduduk Indonesia terhadap daging ayam hanya sekitar 11,5 kg/kapita/tahun. Untuk telur hanya sekitar 6,63/kapita/tahun, masih jauh lebih rendah dari Malaysia, Thailand, dan Singapura. (591)