Sejak Merdeka Data Beras Hanya dari BPS

Kamis, 08 November 2018, 07:00 WIB

Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Islam Riau, U. P. Ismail. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Usai rapat terbatas di Kantor Wapres tanggal 22 Oktober 2018 lalu, Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menegaskan data produksi beras nasional selama 20 tahun terakhir keliru. Terhitung sejak tahun 1997 hingga saat ini, angka produksi beras terus bertambah, tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Menurutnya kekeliruan ini merupakan kesalahan banyak pihak. 

Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Islam Riau, U. P. Ismail, mengatakan sebenarnya sejak Indonesia merdeka sampai saat ini data pangan satu pintu di Badan Pusat Statistik (BPS). Menurutnya, Kementan tidak mengolah data pangan, semua rilis data Kementan berasal dari BPS.

“Metode BPS yakni eyes estimate, kemudian mengolah dan merilis data pangan. Tetapi, sejak 2016 sampai kemarin BPS tetap mendata, mengolah, namun tidak merilisnya karena menunggu perbaikan data dengan KSA,” kata Ismail dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/11).

Ismail menjelaskan data BPS metode eyes estimate itulah yang dirilis Kementan dan disajikan. "Tapi BPS rilis untuk intern. Harus diakui justru selama 3 tahun ini Kementan menjadi pihak yang dirugikan karena BPS tidak merilis datanya. Akhirnya Kementan meminta dan memakai data BPS yang tidak dirilis tersebut,” ujar pria yang juga Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Pekanbaru, Riau itu.

Berdasarkan data rilis terbaru BPS dengan menggunakan metode kerangka sampling area (KSA), luas baku sawah berkurang dari 7,75 juta hektare (ha) pada tahun 2013 menjadi 7,1 juta ha tahun 2018. Potensi luas panen tahun 2018 mencapai 10,9 juta ha, sementara proyeksi Kementan 15,5 juta ha.

Begitu pun produksi 56,54 juta ton gabah kering giling atau setara 32,42 juta ton beras. Sementara proyeksi Kementan 83,3 juta ha atau setara 48 juta ton. Dengan demikian, dengan metode KSA pun, Indonesia surplus beras 29,50 juta ton selama 2018. (591)