Negara Asing Tertarik Cara Kementan Tangani Zoonosis

Kamis, 08 November 2018, 16:56 WIB

Peserta pertemuan tingkat menteri Global Health Security Agenda (GHSA) 2018 Ministerial Meeting memberikan keterangan saat mengunjungi Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Denpasar, Bali pada Kamis (8/11). | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Sebanyak 42 negara peserta pertemuan tingkat menteri Global Health Security Agenda (GHSA) 2018 Ministerial Meeting melakukan kunjungan ke Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Denpasar, Bali pada Kamis (8/11). Kunjungan lapangan (site visit) GHSA ini sebagai suatu kehormatan sekaligus kebanggaan bagi Indonesia karena pertemuan yang digelar pada tanggal 6-8 November di Nusa Dua, Bali ini merupakan forum tahunan dan tertinggi GHSA antar negara-negara dunia.

Tujuan dari pertemuan untuk membangun dunia yang aman dari ancaman penyakit menular, melalui kerja sama antar negara dengan meningkatkan komitmen untuk mencapai ketahanan kesehatan global, regional, dan nasional. Kunjungan itu sekaligus sebagai bentuk upaya berbagi pengalaman dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons cepat berbagai penyakit menular berpotensi wabah.

Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa,  menyampaikan pada kunjungan ini beberapa negara menyatakan ketertarikan dan keinginannya untuk dapat belajar dan bertukar informasi tentang cara kerja dan keberhasilan BB-Vet dalam memitigasi dan menangani beberapa penyakit zoonosis (ditularkan melalui hewan). Menurutunya, sejak ditetapkan sebagai Balai Besar, BB-Vet Denpasar telah menerima kunjungan belajar resmi dari berbagai institusi lintas negara. Kunjungan itu baik lembaga setingkat kementerian, saintifik, akademik, maupun lembaga-lembaga lab dari berbagai penjuru dunia.

Kunjungan kerja delegasi negara anggota dan peserta GHSA Ministerial Meeting 2018 ini tidak saja penting dalam perspektif kemampuan Indonesia mencegah (prevent), mendeteksi (detect), dan menanggulangi (respond) penyakit yang bersifat zoonosis, tetapi juga menunjukkan penerapan fungsi lab yang signifikan dalam menjaga kesehatan hewan, manusia, serta lingkungan. Menurutnya, tantangan besar dalam peternakan dan kesehatan hewan yakni meningkatnya kepedulian global terhadap penyakit hewan lintas batas/penyakit menular yang muncul sehingga laboratorium hewan memiliki peran yang sangat penting dalam sistem kesehatan. 

“Kami akan terus tingkatkan kapasitas untuk menyediakan layanan laboratorium melalui program kesehatan hewan nasional di Indonesia. Kami bekerja sama dengan mitra untuk pembangunan di tingkat regional,” kata Fadjar Sumping.

Menteri Kesehatan Uganda Dr. Jane Aceng, dalam kunjungn itu mengatakan tertarik dengan fasilitas laboratorium milik Indonesia yang sangat baik. Menurutnya, penerapan biosafety dan biosecurity telah dilakukan sehingga potensi bahaya yang mungkin akan ditimbulkan dapat diantisipasi. Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Italia, Gluseppe Ruocco,  menyampaikan apresiasi kepada Indonesia yang telah memberikan informasi tentang kesehatan hewan yang sangat bermanfaat. 

BB-Vet Denpasar sendiri merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. UPT ini mengimplementasikan standar internasional dalam melakukan kegiatan surveilans, investigasi, monitoring, metode, dan pelaporan (peta bencana) di bidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner. 

Dengan kelengkapan laboratorium (lab) di bidang virologi, bioteknologi, bakteriologi, parasitologi, patologi, dan kesmavet (kesehatan masyarakat veteriner) para peserta kunjungan kerja diajak melihat secara langsung proses dan metode kerja lab yang digunakan khususnya yang berkaitan dengan penyakit zoonosis. 

Fadjar Sumping menjelaskan BB-Vet Denpasar menjadi benteng terdepan dalam tindakan pencegahan, pendeteksian, dan penanggulangan penyakit zoonosis di wilayah Indonesia Tengah, meliputi wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). BB-Vet Denpasar telah mengantungi sertifikat ISO-17025 (2008) dan ISO-9001 (2015).

Lebih lanjut Ia jelaskan bahwa BB-Vet Denpasar menjadi rujukan utama lab nasional untuk penyakit Jembrana (infeksi lentivirus) pada sapi Bali (bos sondaicus) dan septicaemia epizootica: infeksi bakteri di hewan ternak, kerbau, dan babi. BB-Vet Denpasar juga telah, sedang, dan akan melakukan pemusnahan penyakit yang bersumber dari hewan, yaitu: brucellosis di Pulau Sumba, NTT (2015); Rabies di NTB dan haemoragic septicaemia (2017); Jembrana, Bali (2019-2022); dan Rabies Bali (2019-2020).

Di Indonesia saat ini terdapat 3 BB-Vet, masing-masing adalah BB-Vet Denpasar, BB-Vet Wates (Jawa Tengah), dan BB-Vet Maros (Sulawesi Selatan). Ada juga Balai Veteriner (BVet) masing-masing di Medan (Sumatera Utara), Bukittinggi (Sumatera Barat), Lampung, Subang (Jawa Barat), dan Banjar Baru (Kalimantan Selatan). (591)

BERITA TERKAIT