Perubahan Iklim, Ini Langkah Jaga Komoditas Hortikultura

Jumat, 09 November 2018, 13:00 WIB

Perlu langkah tepat mengantisipasi perubahan iklim agar produksi tanaman hortikultura dapat terjaga dan meningkat. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET-- Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto, mengatakan komoditas subsektor hortikultura khususnya sayuran dan buah semusim, seperti cabai, bawang merah, tomat, bawang putih, melon, dan semangka rentan terhadap perubahan iklim. Salah satu kunci penting keberhasilan adaptasi dan mitigasi iklim adalah rekayasa ketersediaan air.

Ditjen Hortikultura telah mengembangkan model irigasi hemat air melalui teknologi sprinkle dan irigasi tetes (drip irrigation). Embung reservoir dibangun di sentra-sentra produksi untuk menampung air di musim penghujan. Saat musim hujan, lahan-lahan kering terlantar didorong untuk dioptimalkan pemanfaatannya. "Bagaimana mengelola air saat berlimpah atau sebaliknya saat kekurangan air, sangat menentukan keberhasilan budi daya," kata Prihasto di Jakart, Kamis (8/11).

Kementan menganjurkan penggunaan pupuk organik dalam jumlah yang cukup. Pupuk asal bahan organik terbukti mampu meningkatkan kemampuan tanah mengikat air. Seluruh limbah panen dianjurkan untuk dikembalikan ke tanah sebagai bahan kompos. Pemupukan disarankan tepat dosis dan tepat sasaran ke bagian tanaman menggunakan sistem deep placement. Sementara pada model pertanian kota (urban farming) didorong pengembangan biopori untuk meningkatkan penyerapan air.

Prihasto menambahkan, optimalisasi pemanfaatan lahan penting dalam upaya adaptasi dan mitigasi agar keberlangsungan budi daya pertanian dapat terus dijaga. Lahan sayuran bisa diintegrasikan dengan tanaman perkebunan bahkan peternakan. Penggunaan mekanisasi pertanian juga bisa menekan praktik pembakaran lahan dan sisa panen.

"Penting juga diperhatikan kaidah konservasi lahan terutama untuk kontur lahan berlereng, bedengan harus dibuat melintang memotong bidang lereng. Masyarakat mengenalnya dengan istilah nyabuk gunung,  jangan dibuat membujur searah lereng. Sebagai penguat konservasi, bisa ditanami dengan tanaman perkebunan seperti kopi," imbuh pria yang akrab dipanggil Anton itu.

Lahan-lahan pekarangan maupun lahan sempit perkotaan bisa dimaksimalkan untuk ditanami sayuran, buah, dan tanaman obat. "Masyarakat bisa mengadopsi model kawasan rumah pangan lestari (KRPL) yang dikembangkan oleh Litbang Pertanian," tukasnya. 

Menyikapi merebaknya hama dan penyakit yang menyerang tanaman hortikultura saat anomali iklim, Ditjen Hortikuktura mendorong pengendalian ramah lingkungan secara preventif. Wujudnya berupa penggunaan likat kuning, PGPR, sex pheromone, biopestisida, dan penanaman jenis refugia, seperti bunga kenikir atau bunga matahari. "Saya harapkan semua pihak lebih peduli dengan isu perubahan iklim ini karena dampaknya terhadap penyediaan pangan kita akan sangat luas," harapnya. (591)