Upaya Strategis Menghadapi Isu Sawit Global

Jumat, 09 November 2018, 15:59 WIB

Petani memuat sawit ke atas mobil untuk didistribusikan ke pabrik. | Sumber Foto: Wikipedia

AGRONET -- Situasi pasar kelapa sawit menghadapi tantangan penurunan harga crude palm oil (CPO) di pasar global. Tantangan lain isu keberlanjutan yang membuat produk CPO sulit masuk ke negara utama tujuan ekspor. Untuk itu perlu sinergisitas antara negara anggota untuk kepentingan industri kelapa sawit.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, saat memberikan sambutan pada 5th Ministerial Meeting Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) atau pertemuan menteri tentang produksi sawit di Putrajaya, Malaysia, pada 8 November 2018. "Pertemuan ini sangat penting bagi CPOPC guna memainkan peran sebagai forum negara penghasil kelapa sawit untuk mengkoordinasikan langkah-langkah dalam mengatasi tantangan industri sawit," kata Darmin dalam siaran pers yang diterima AGRONET, Jumat (9/11).

Dalam pertemuan ini, CPOPC menetapkan Malaysia secara resmi sebagai pimpinan CPOPC terhitung mulai 1 Januari 2019 menggantikan Indonesia, yang diserahterimakan langsung dari Menko Perekonomian, Darmin Nasution, kepada Menteri Industri Utama, YB Teresa Kok. CPOPC juga memutuskan beberapa langkah strategis dalam mempertahankan daya tawar di tengah tantangan pasar global, antara lain program keberpihakan terhadap petani,  penetapan Kolombia sebagai negara anggota CPOPC, penguatan mandatori biodiesel, dan strategi untuk mengatasi kampanye hitam di pasar global.

CPOPC komit untuk mendorong keberpihakan terhadap petani kelapa sawit yang berkontribusi besar dalam capaian produksi global. Indonesia dan Malaysia memprioritaskan pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan petani melalui peningkatan implementasi good agricultural practices (GAP) dan program peremajaan sawit.

Kedua negara juga komit untuk mengadakan business and smallholders forum pada tahun 2019 mendatang, dan sepakat pentingnya konsolidasi program mandatori biodiesel di seluruh negara anggota, sekaligus mendorong penggunaan biodiesel ke negara-negara pengguna sawit.

Darmin menjelaskan untuk memperkuat kerja sama dengan negara penghasil sawit lain, CPOPC menetapkan Kolombia sebagai anggota dari CPOPC. Penetapan itu mempertimbangkan posisi Kolombia sebagai salah satu negara penghasil sawit terbesar di Benua Amerika.

Untuk mengatasi kampanye hitam terhadap produk sawit yang cukup diskriminatif bagi negara penghasil, CPOPC mengambil beberapa langkah strategis, antara lain: Negara anggota CPOPC tidak akan berpartisipasi dalam workshop terkait indirect land use change (ILUC) yang merupakan bagian dari European Union’s Renewable Energy Directive II (RED II) karena dinilai sangat diskriminatif terhadap produk kelapa sawit di pasar Uni Eropa. CPOPC akan terus mengadopsi prinsip-prinsip suistanable development goals (SDGs) sebagai salah satu pendorong komitmen keberlanjutan yang lebih baik di industri kelapa sawit guna menyeimbangkan keuntungan ekonomi, sosial, dan lingkungan. (591)