Agri Vaganza 2018

Agri Vaganza: Yuk...Lebih Kenal Inovasi Digital Petani Milenial

Senin, 26 November 2018, 14:59 WIB

Bincang santai bersama Sekjen Kementan, Syukur Iwantoro (kanan), Co-Founder Tanijoy, Muhammad Nanda Putra (kiri), dan founder etanee, Cecep MW. | Sumber Foto: AGRONET / M. Yani

AGRONET -- Kementerian Pertanian menggelar kegiatan Agri Vaganza 2018 untuk memotivasi para generasi milenial mengembangkan inovasi dan teknologi, serta mendorong tumbuhnya wirausaha baru di bidang pertanian. Acara tahunan itu juga sebagai ajang promosi berbagai produk dan inovasi pertanian Indonesia.

Agri Vaganza 2018 yang berlangsung di komplek Gedung Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta, pada Jumat-Sabtu kemarin (23-24 November) itu, dihadiri oleh para petani milenial, pelaku usaha, para siswa-siswi, pelajar SD, SMP, SMU, dan para undangan. Di samping menampilkan berbagai produk pertanian, kegiatan juga diisi dengan dialog dan diskusi antar stakeholder pertanian.

Di antara sesi acara yang mendapat perhatian pengunjung, yakni bincang santai yang menampilkan wirausaha muda, founder Tanijoy, Muhammad Nanda Putra, dan founder etanee, Cecep MW. Sesi ini menarik dan membuat rasa ingin tahu peserta dan undangan, karena kedua pembicara memadukan antara unsur teknologi digital dengan industri pertanian.

Pendiri platform Tanijoy, Muhammad Nanda, memulai diskusi dengan mengungkapkan latar belakang berdirinya Tanijoy. Hal itu bermula dari adanya rasa kepedulian ingin membahagiakan petani. Untuk itu, ia bersama rekan-rekannya mulai membangun platform bisnis tersebut.

“Tanijoy berusaha membantu petani kecil dalam mendapat akses lahan dan permodalan untuk melakukan pertanian. Kita mengelola secara profesional dan tranparan pada setiap prosesnya,” sebut Nanda. 

Tanijoy, ujarnya, fokus kepada petani dengan melakukan edukasi dan pengetahuan tentang cara bertani yang efektif, cara menanam, mencari lahan, sumber permodalan, hingga akses ke pasar yang lebih luas. “Pertama kita akses modal untuk petani dalam bentuk barang yang  bekerja sama dengan vendor. Selanjutnya kita langsung mendampingi ke lapangan,” ujarnya.

Tanijoy mempunyai mimpi besar dengan memberikan kesempatan petani untuk bertani di lahan yang lebih layak dan upah kerja yang meningkat hingga 60 persen. “Tanijoy menghubungkan antara petani dengan investor. Artinya, dengan memberikan kesempatan kepada siapapun untuk berkontribusi dalam bisnis pertanian, itu berarti siapapun bisa menjadi seorang agripreneur, pengusaha pertanian,” sambungnya.

Sementara itu, founder etanee, Cecep MW, menjelaskan tujuan etanee adalah untuk mempermudah para petani dan peternak menjual produknya. “Kita fokus kepada penjualan. Dengan digitalisasi pemasaran lebih mudah, lebih luas, dan murah,” ujarnya.

Cecep merasa ada kegelisahan dalam dirinya melihat dinamika pertanian di Indonesia, seperti terjadinya fluktuasi harga produk ternak. Karena itu muncul ide membentuk etanee untuk menjembatani para petani atau produsen dengan harga yang wajar, dan sekaligus melindungi konsumen dengan harga yang sesuai dan terjangkau.

Untuk kualitas produk, Cecep menjamin, semua produk sudah melalui sertifikasi halal dari LPPOM MUI, sertifikat NKV (nomor kontrol veteriner) bagi rumah potong hewan dan unggas, serta sertifikat HACCP dan GMP untuk proses produksi. “Hingga kini kami masih fokus pemasaran produk-produk frozen food. Kita sudah tersebar di sembilan kota besar,” pungkasnya. (591)

BERITA TERKAIT