Produksi Sayur Makin Bergairah, Tembus Mancanegara

Rabu, 05 Desember 2018, 07:07 WIB

Dirjen Hortikultura Kementan, Suwandi (baju putih), saat meninjau produksi bawang. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor komoditas sayuran mengalami peningkatan. Di samping itu, komoditas ini merupakan suatu sektror strategis yang menjanjikan.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, di Jakarta, Selasa (4/12). Peningkatan ekspor, katanya, turut didukung oleh kebijakan mulai dari pengawalan dari hulu hingga hilir, registrasi kebun, sertifikasi packaging house, hingga pelayanan perkarantinaan. “Saat ini, proses izin ekspor benih hortikultura termasuk tanaman hias dipangkas, semula 8 hari menjadi 3 jam setelah berkas lengkap dan memenuhi syarat," ujarnya. 

Menurut Suwandi, subsektor hortikultura menjadi salah satu favorit ekspor. Pasalnya, selain karena pangsa pasar yang luas, produk hortikultura tropis juga semakin diminati pasar dunia. Selain buah dan tanaman hias tropis, aneka sayuran juga semakin banyak diekspor, seperti kubis, wortel, bawang merah, selada, kacang panjang, brokoli, asparagus, bayam, dan sebagainya.

Menurut data BPS, periode Januari-September 2018 beberapa komoditas sayuran mengalami peningkatan ekspor dibanding periode yang sama tahun 2017 lalu. Misalnya, ekspor kubis meningkat dari 27.355 ton menjadi 34.039 ton.  Kubis merambah pasar Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan hingga Uni Emirat Arab (UEA).

Kemudian, ekspor bawang merah mencatatkan prestasi, dari semula masih impor 74 ribu ton tahun 2014, bisa turun drastis hingga nol persen di tahun 2016. Periode Januari-September 2018 ekspor bawang merah naik 10,2%. Negara tujuan, yaitu Thailand, Singapura, Malaysia, Taiwan, Vietnam, Srilanka, Timor Leste, dan sebagainya.

Wortel asal Berastagi (Sumut) juga mulai banyak mengisi pasar ekspor Singapura dan Malaysia. Naiknya sangat fantastis, mencapai 808%, dari semula hanya 1,8 ton menjadi 16,8 ton. Begitu pun ekspor kacang panjang melonjak dari hanya 4 ton menjadi 41 ton, menjangkau pasar Singapura, Arab Saudi, UEA, hingga Belanda.

Bunga kol dan brokoli ekspornya juga melonjak 2.350% mengisi pasar Malaysia, Singapura dan Taiwan. Bayam pun mengalami peningkatan ekspor 477% yang memasok Singapura, Malaysia, Belanda, dan Jepang. Untuk produk edamame tahun 2018 ditargetkan bisa ekspor hingga 9 ribu ton dari Jember ke Jepang, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, negara-negara Eropa, dan Timur Tengah.

Selain itu, produksi kentang tahun 2017 mencapai lebih dari 1,16 juta ton. Dari jumlah tersebut Indonesia mampu mengekspor kentang 3.517 ton ke Singapura, Malaysia, Hongkong dan Taiwan. "Kita sudah swasembada kentang sayur pada tahun 2018 ini. Untuk kentang industri chips akan kita tuntaskan 2020 nanti," ucap Suwandi.

Dengan menggencarkan dan mempermudah ekspor, tegas Suwandi, dampaknya telah menggeret peningkatan produksi dan kualitas produk dalam negeri. Sentra-sentra sayuran mulai tumbuh dan berbenah. Para petani pun makin bergairah tanam sayuran menggunakan sistem budi daya yang ramah lingkungan sesuai tuntutan pasar ekspor.

"Eksportir bermitra dan bisa melakukan transfer teknologi ke petani agar sesuai permintaan pasar. Pola-pola kemitraan ini yang ke depan akan terus kami dorong tingkatkan," tegasnya. (591)