Pengembangan Lahan Padi Gogo Diperluas

Rabu, 05 Desember 2018, 11:49 WIB

Dirjen Tanaman Pangan Sumardjo Gatot Irianto. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Untuk meningkatkan produksi, Kementerian Pertanian terus mengoptimalkan potensi padi gogo. Pengembangan tidak hanya pada lahan kering, tapi juga melalui  pemanfaatkan gogo sawah, gogo gunung, gogo rawa, padi rawa, dan padi pasang surut.

Dirjen Tanaman Pangan, Sumardjo Gatot Irianto, menjelaskan masih banyak potensi untuk mengembangkan padi di luar lahan sawah. Pada tahun 2018 ini, Ditjen Tanaman Pangan telah mengembangkan padi gogo seluas 1 juta hektare (ha) di areal lahan baru.

“Pendekatan ini karena adanya alih fungsi lahan yang semakin tinggi.  Dengan  perluasan lahan di areal baru ini, diharapkan dapat  sebagai solusi untuk tetap mempertahankan produksi padi nasional,” ujarnya di Jakarta, Selasa (4/12).

Dia menambahkan, langkah lain juga dilakukan, seperti pengembangan pola tanam tumpangsari padi, jagung, dan kedelai dengan sistem tanam rapat.  Hal ini untuk dapat memitigasi alih fungsi lahan terutama akibat pembangunan infrastruktur.

Pertimbangan pola tumpangsari agar tidak terjadi persaingan penggunaaan lahan antara komoditas padi, jagung, dan kedelai. Indonesia masih memiliki peluang  luas untuk menggenjot produksi dengan pola tumpangsari hingga lima tahun ke depan.

Gatot merinci, pada tahun 2018 pihaknya telah menyalurkan bantuan penyediaan berbagai sarana pertanian. Bantuan berupa sarana produksi, penggunaan benih bermutu, dan penyediaan bantuan benih seluas 6.788.210 hektare untuk benih padi inrida, padi hibrida, jagung, dan kedelai. 

Selain itu, Ditjen Tanaman Pangan telah mampu melampaui target nawacita 1.000 desa mandiri benih (DMB). Sampai tahun ini telah dilaksanakan program DMB di 1.313 unit. Dengan adanya DMB petani dapat diberdayakan untuk mampu memenuhi kebutuhan benihnya sendiri.

Dalam hal pengamanan produksi, telah  dikembangkan budi daya tanaman sehat (BTS). Upaya ini dilakukan di lahan endemis serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Tahun 2017 dilaksanakan di lahan seluas 13.610 ha dan tahun 2018 meningkat menjadi 33.000 ha.

Produktivitas di lahan BTS meningkat dari semula 6,46 ton per ha menjadi 8,7 ton per ha. Serangan OPT juga mengalami penurunan signifikan di tahun 2018 ini sebesar 36,56 persen dari tahun sebelumnya.

Untuk mengurangi susut hasil panen dan peningkatan nilai tambah, Ditjen Tanaman Pangan telah mengalokasikan bantuan alsintan pascapanen. Selama kurun waktu 2014-2018 telah diberikan bantuan alsintan sebanyak 52.230 unit.

Tahun 2018 ini juga memberikan dryer sebanyak 1.000 unit. Dengan bantuan dryer ini diharapkan tidak hanya produksi yang terjaga namun mutu panen juga baik agar harga tetap stabil.  

"Pendampingan juga diperlukan untuk mencapai sasaran produksi tanaman pangan. Pengawalan dilakukan dari aparat pusat, daerah, penyuluh lapangan, sampai dengan tingkat kecamatan," pungkasnya. (591)